<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Hizbut Tahrir Indonesia</title>
	<atom:link href="http://hizbut-tahrir.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hizbut-tahrir.or.id</link>
	<description>International Political Party</description>
	<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 17:26:31 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>LIBERALISASI BUDAYA MENGANCAM BANGSA INI</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/10/liberalisasi-budaya-mengancam-bangsa-ini/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/10/liberalisasi-budaya-mengancam-bangsa-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 17:26:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hafidz</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Al Islam]]></category>

		<category><![CDATA[hedonisme]]></category>

		<category><![CDATA[liberalisme budaya]]></category>

		<category><![CDATA[seks bebas]]></category>

		<category><![CDATA[valentine day]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/10/liberalisasi-budaya-mengancam-bangsa-ini/</guid>
		<description><![CDATA[[Al-Islam 493] Kehebohan dalam rangka &#34;Hari Kasih Sayang&#34; (Valentine&#8217;s Day) begitu terasa selama sepekan ini. Kehebohan itu sekarang bukan hanya melanda ABG, tetapi juga melanda orang-orang dewasa. Kehebohan itu menghiasai halaman-halaman media massa dari media cetak hingga televisi. Mall dan pusat perbelanjaan sampai toko-toko kecil pun turut larut dalam kehebohan itu. 
Kehebohan ini dibungkus dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><strong>[Al-Islam 493] </strong>Kehebohan dalam rangka &quot;Hari Kasih Sayang&quot; (Valentine&#8217;s Day) begitu terasa selama sepekan ini. Kehebohan itu sekarang bukan hanya melanda ABG, tetapi juga melanda orang-orang dewasa. Kehebohan itu menghiasai halaman-halaman media massa dari media cetak hingga televisi. Mall dan pusat perbelanjaan sampai toko-toko kecil pun turut larut dalam kehebohan itu. </p>
<p align="justify">Kehebohan ini dibungkus dengan sebutan yang indah, &quot;Hari Kasih Sayang&quot;, yang mendorong semua orang untuk mengungkapkan cinta dan sayangnya kepada orang-orang dekat mereka khususnya pasangan. Namun sejatinya, kehebohan ini sarat dengan kampanye seks bebas dan desakralisasi keperawanan (keperawanan tak lagi dianggap &#8217;suci&#8217;). Kehebohan &quot;Hari Kasih Sayang&quot; ini seiring-sejalan dengan pornoaksi. Hal ini bisa dilihat dari laris manisnya penginapan dan tempat-tempat pelesiran selama Valentinan yang dipesan dan didatangi oleh pasangan muda-mudi dan pria-wanita dewasa. Omset penjualan kondom yang melonjak juga menandakan bahwa kehebohan &quot;Hari Kasih Sayang&quot; ini tidak jauh dari aktifitas seks bebas. Selama Valentinan, suasana memang didesain erotis dan dipadu dengan budaya konsumsi coklat yang mengandung Phenylethylamine dan Seratonin. Coklat ini memacu gairah ekstase dan erotis serta berefek meningkatkan kegembiraan dan stamina.</p>
<p align="justify"><b>Kampanye Seks Bebas dan Budaya Liberal</b></p>
<p align="justify">&quot;Hari Kasih Sayang&quot; yang diperingati setiap bulan Februari hanyalah salah satu sarana sekaligus momentum kampenye seks bebas, khususnya di kalangan generasi muda. Bulan Desember lalu, Hari AIDS se-Dunia juga dijadikan momentum yang sama. </p>
<p align="justify">Kampanye sekaligus praktik seks bebas sebetulnya sudah lama berlangsung dan dilakukan secara luas. Hal itu bisa dilihat dari beberapa data hasil penelitian. Misalnya, berdasarkan hasil survei Komnas Anak dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) di 12 propinsi pada tahun 2007 terungkap sebanyak 62,7 % anak SMP yang diteliti mengaku sudah tidak perawan. Sebanyak 21,2 % anak SMA yang disurvei mengaku pernah melakukan aborsi. (<i>Media Indonesia</i>, 19/7/08). </p>
<p align="justify">Maraknya seks bebas juga bisa dilihat dari data tentang HIV/AIDS. Hal itu karena HIV/AIDS, 75-85%-nya ditularkan melalui hubungan seks, 5-10 persen melalui homoseksual, 5-10 persen akibat alat suntik yang tercemar terutama pengguna narkoba jarum suntik dan 3-5 persen tertular lewat transfusi darah. Padahal Departemen Kesehatan RI memperkirakan, 19 juta orang saat ini berada pada risiko terinfeksi HIV. Menurut data Yayasan AIDS Indonesia (YAI), jumlah penderita HIV/AIDS di seluruh Indonesia per Maret 2009, mencapai 23.632 orang. Dari jumlah itu, sekitar 53 persen terjadi pada kelompok usia 20-29 tahun, disusul dengan kelompok usia 30-39 tahun sekitar 27 persen.</p>
<p align="justify">Perilaku seks bebas yang marak itu dipengaruhi oleh budaya liberal. Muncul dan menyebarnya budaya liberal di Tanah Air bukanlah proses yang berlangsung alami, tetapi merupakan hasil dari proses liberalisasi budaya yang dijalankan secara sistematis dan terorganisir. Liberalisasi budaya juga tidak jauh-jauh dari rekayasa Barat. Budaya liberal atau budaya bebas itu bukanlah berasal dari ajaran Islam yang dianut mayoritas penduduk negeri ini. Budaya itu lebih merupakan budaya Barat yang mengusung nilai-nilai liberal yang dimasukkan (baca: dipaksakan) ke tengah-tengah masyarakat negeri ini. Jadi berkembangnya budaya liberal di Tanah Air itu tidak lepas dari konspirasi Barat. </p>
<p align="justify"><b>Liberalisasi Budaya dan Motif Penjajahan </b></p>
<p align="justify">Konspirasi liberalisasi budaya oleh Barat terhadap negeri Muslim tidak lepas dari motif penjajahan. Dengan liberalisasi budaya itu masyarakat di negeri-negeri Muslim, termasuk masyarakat negeri ini, akan kehilangan identitas lalu memakai baju Barat atau bahkan mengekor identitas Barat tanpa lagi mempertimbangkan halal atau haram. Barat hanya menginginkan masyarakat, khususnya generasi muda, berpenampilan Barat, tetapi kosong dari produktivitas, daya inivasi dan kemajuan sains dan teknologi seperti halnya Barat. Dengan begitu masyarakat negeri ini hanya akan menjadi pengekor Barat. Akhirnya, penjajahan dan penghisapan oleh Barat pun tidak akan dipermasalahkan karena Barat dijadikan panutan. Dengan mengadopsi gaya hidup Barat, masyarakat negeri ini pun akan menjadi pasar besar bagi produk-produk Barat. </p>
<p align="justify">Konspirasi itu bukan hanya isapan jempol belaka. Namun benar-benar nyata adanya. Secara <i>i’tiqadi</i>, al-Quran telah menginformasikan bahwa orang-orang kafir secara keseluruhan akan terus memerangi umat islam, baik secara fisik maupun pemikiran, agar umat Islam keluar dari Islam (QS 2: 217). Al-Quran juga mengformasikan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepada umat ini hingga umat ini mengikuti <i>millah</i> (sistem dan cara hidup) mereka (QS 2: 120).</p>
<p align="justify">Secara faktual konspirasi liberalisasi budaya itu bisa dirasakan. Konspirasi itu setidaknya dijalankan melalui: <i>Pertama</i>, pada tingkat falsafah dan pemikiran dilakukan dengan menanamkan paham sekularisme, liberalisme dan hedonisme. Sejatinya budaya bebas itu berpangkal dari ketiga paham tersebut. Sekularisme adalah ide dasar yang mengesampingkan peran agama dari pengaturan kehidupan. Sekularisme menuntun manusia untuk menempatkan agama hanya pada ranah individu dan wilayah spiritual saja. Sekularisme itu &#8216;mengharamkan&#8217; agama ikut andil dalam mengatur kehidupan. Sekularisme mengajaran bahwa manusia bebas mengatur hidupnya tanpa campur tangan Tuhan. </p>
<p align="justify">Inilah inti dari paham liberalisme, yakni paham yang menanamkan keyakinan bahwa manusia bebas mengelola hidupnya. Paham liberalisme ini mengagungkan kebebasan individu, baik dalam berpendapat, berperilaku, beragama maupun dalam kepemilikan. </p>
<p align="justify">Adapun paham hedonisme mengajarkan manusia untuk mengejar kenikmatan materi dan jasadi serta melakukan apa saja yang bisa mendatangkan kenikmatan itu, termasuk kesenangan yang lahir dari hubungan seks. Paham ini tercermin dalam slogan <i>fun</i> (kesenangan), <i>food</i> (makanan/pesta) dan <i>fashion</i> (busana). Dengan paham ini manusia didorong untuk mengejar kenikmatan dengan jalan bersenang-senang, termasuk di dalamnya bersenang-senang dengan melakukan seks bebas, berpesta demi mendapatkan kenikmatan dari lezatnya makanan dan bisa merasa senang dengan jalan selalu tampil gaya dan modis. Paham hedonisme itu mengajarkan, agar manusia bisa mendapatkan kenikmatan itu, manusia harus dibebaskan untuk meraih dan mengeskpresikannya serta tidak boleh dikekang. </p>
<p align="justify">Semua paham itu tidak akan bisa berkembang kecuali dalam sistem demokrasi dan di tengah-tengah masyarakat yang demokratis. Paham-paham itu berjalan seiring dengan proses demokratisasi yang begitu gencar dilancarkan di negeri-negri Muslim, termasuk negeri ini.</p>
<p align="justify"><i>Kedua</i>, liberalisasi budaya itu dikemas dalam berbagai program secara internasional yang dikawal oleh PBB dan lembaga-lembaga internasional. PBB mengeluarkan berbagai konvensi dan kesepakatan internasional terkait dengan isu HAM, kesetaraan gender, dan lain-lain, semisal Konvensi tentang Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (CEDAW), kesepakatan Konferensi Kependudukan (ICPD), MDGs, BPFA dll yang spiritnya sama-sama menuntut kebebasan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Kemudian negara-negara Dunia Ketiga (termasuk negeri-negeri Muslim) diharuskan (dipaksa) meratifikasi semua itu. Lahirlah berbagai UU yang melegalkan kebebasan. </p>
<p align="justify">Selanjutnya semua itu dijalankan melalui serangkaian aksi dan program secara nasional baik oleh LSM-LSM maupun oleh pemerintah sendiri. Misal, program kesetaraan gender yang bahkan menjangkau tingkat kelurahan. Ada pula program kampanye dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja (KRR) yang sejatinya mengkampanyekan seks bebas asal aman; program kondomiasasi; dan program <i>harm reduction</i> dalam bentuk substitusi dan pembagian jarum suntik steril; dan yang lainnya. Program-program itu dikemas dalam berbagai bentuk baik seminar, <i>talkshow</i>, pelatihan, pembentukan <i>buzz group</i>, konsultasi, pendampingan, dsb; menggunakan berbagai sarana; serta melibatkan mulai kalangan birokrat hingga remaja dan kampanye melalui berbagai media massa. </p>
<p align="justify">Adapun paham hedonisme ditanamkan melalui media massa cetak, radio dan televisi melalui program-program yang lebih bernuansa pesta, musik, fesyen dan hiburan. Dalam semua itu terlihat secara kasatmata bahwa banyak sekali program yang merupakan kopian dari program-program yang sama di Barat.</p>
<p align="justify"><b>Menyelamatkan Umat dari Liberalilasi Budaya</b></p>
<p align="justify">Liberalisasai budaya yang sudah berjalan secara luas itu telah banyak menelan korban; di antaranya puluhan ribu orang terkena HIV/AIDS, jutaan kehamilan diaborsi, jutaan pecandu narkoba, rusaknya keharmonisan jutaan keluarga, ribuan anak-anak terlantar, ekspolitasi perempuan, kejahatan seksual, dan sebagainya. </p>
<p align="justify">Budaya liberal itu hanyalah buah dari diterapkannya sistem sekular dengan sistem Kapitalismenya yang mengagungkan ide kebebasan (liberalisme). Karena itu, sudah selayaknya umat Islam mencabut ideologi dan sistem sekular seperti saat ini yang telah menumbuhkan budaya liberal dan nyata-nyata menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan dan kerusakan atas umat manusia. </p>
<p align="justify">Sebagai gantinya, sekaligus untuk memperbaiki dan menyelamatkan umat serta mengembalikan menjadi umat luhur, sudah saatnya kita kembali pada tatanan kehidupan yang didasarkan pada syariah Islam. Sebab, hanya Islamlah dengan serangkaian sistemnya yang merupakan satu-satunya solusi bagi seluruh problem dan persoalan hidup manusia. Allah SWT berfirman:</p>
<blockquote><p style="text-align: right"><span style="font-size: 14pt; font-family: traditional arabic">]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[</span></p>
<p align="justify"><i>Hukum Jahiliahkah yang mereka kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?</i> <b>(QS al-Maidah [5]: 50).</b></p>
</blockquote>
<p align="justify">Hanya sistem Islamlah yang akan mampu memberikan kebaikan dan kehidupan yang membawa kebaikan bagi umat manusia. Allah SWT menegaskan: </p>
<blockquote><p style="text-align: right"><span style="font-size: 14pt; font-family: traditional arabic">]يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ[</span></p>
<p align="justify"><i>Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian </i><b>(QS al-Anfal [8]: 24)</b></p>
</blockquote>
<p align="justify">Karena itu, marilah kita segera mematuhi seruan Allah SWT itu sebagaimana firman-Nya:</p>
<blockquote><p style="text-align: right"><span style="font-size: 14pt; font-family: traditional arabic">]اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ[</span></p>
<p align="justify"><i>Patuhilah seruan Tuhan kalian sebelum datang suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian) </i><b>(QS asy-Syura [42]: 47).</b></p>
</blockquote>
<p align="justify"><i>WaLlâh a’lam bi ash-shawâb</i>. <b>[]</b></p>
<p align="justify"><strong><u>KOMENTAR AL-ISLAM:</u></strong></p>
<p align="justify">Presiden SBY Dianugerahi Penghargaan sebagai Komunikator Terbaik (<i>Republika.co.id</i>, 4/2/2010).</p>
<p align="justify">Faktanya, rakyat sering bingung mengapa Pemerintah sering mengeluarkan kebijakan yang menyengsarakan mereka. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/10/liberalisasi-budaya-mengancam-bangsa-ini/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Kemungkaran (Dari Aliran Sesat Hingga Neoliberalisme)</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/adakah-ayat-ayat-pluralisme-pengantar/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/adakah-ayat-ayat-pluralisme-pengantar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:30:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cover]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18529</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca yang budiman, berbagai kemungkaran begitu marak dan tampak jelas di hadapan kita. Semua itu sudah dianggap biasa. Korupsi, suap-menyuap, perzinaan dan perselingkuhan, pornografi-pornoaksi, serta tindakan-tindakan amoral lainnya sudah dianggap wajar; tidak lagi dianggap aib, apalagi dosa. Di tingkat penguasa dan pejabat, hidup mewah di tengah kebanyakan rakyat yang miskin dipandang normal. Berbagai kebijakan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/02/114-cover-200.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-18552" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/02/114-cover-200.jpg" alt="" width="200" height="297" /></a>Pembaca yang budiman, berbagai kemungkaran begitu marak dan tampak jelas di hadapan kita. Semua itu sudah dianggap biasa. Korupsi, suap-menyuap, perzinaan dan perselingkuhan, pornografi-pornoaksi, serta tindakan-tindakan amoral lainnya sudah dianggap wajar; tidak lagi dianggap aib, apalagi dosa. Di tingkat penguasa dan pejabat, hidup mewah di tengah kebanyakan rakyat yang miskin dipandang normal. Berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat seperti menaikkan tarif BBM, listrik, PDAM, dll—juga tidak lagi dianggap kesalahan dan kekeliruan. Menumpuk utang luar negeri dengan bunga riba yang mencekik rakyat, perjanjian perdagangan bebas yang bisa mengancam sektor usaha mencegah dan kecil, dll pun dianggap wajar sebagai tuntutan globalisasi dan liberalisasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Di sisi lain, begitu terbiasanya kita menyaksikan kemungkaran, kepekaan kita terhadap berbagai kemungkaran itu tampaknya nyaris hilang. Mungkin pula hal itu karena adanya penyempitan makna ’mungkar’ di tengah-tengah masyarakat kita; termasuk di kalangan para ulama, ustad, mubalig dan tokoh agama lainnya. Seolah-olah kemungkaran itu hanya menyangkut pencurian, perampokan, perzinaan, permabukan, dll. Di luar itu, terutama yang dilakukan penguasa dan pejabat dengan berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat, tidak dianggap mungkar. Bukankah hingga hari ini nyaris tak terdengar suara ulama, ustad, mubalig atau para tokoh Islam yang mengecam Pemerintah yang terus menumpuk utang luar negeri yang berbasis riba, yang nyata-nyata diharamkan menurut Islam? Bukankah nyaris tidak ada reaksi dari mereka saat baru-baru ini Pemerintah mulai menjalankan perdagangan bebas dengan Cina yang pasti bakal menimbulkan madarat sangat luar biasa bagi keberlangsungan nafkah mayoritas rakyat yang berusaha di sektor kecil dan menengah? Bukankah hanya sekelompok kecil yang berteriak menuntut penerapan syariah meski sudah puluhan tahun negeri ini mencampakkan hukum-hukum Allah dan menerapkan hukum-hukum kufur? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Mengapa semua ini bisa terjadi? </span><span style="Verdana;">Dimana letak kesalahannya? Dimana akar persoalannya? Bagaimana pula solusinya? Itulah di antara pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab oleh umat Islam saat ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Untuk itu pula, Redaksi kali ini mengangkat kemungkaran dan upaya meresponnya sebagai tema utama <em>al-waie</em> kali ini, selain sejumlah tema penting lainnya. Selamat membaca!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh</span></em><span style="Verdana;">.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><a href="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/02/114-cover-500.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-18551" src="http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2010/02/114-cover-500.jpg" alt="" width="500" height="742" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/adakah-ayat-ayat-pluralisme-pengantar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mimpi Yang Ambruk!</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/mimpi-yang-ambruk/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/mimpi-yang-ambruk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:28:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dari Redaksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18530</guid>
		<description><![CDATA[Pemerintah Dubai akhirnya meresmikan menara tertinggi di dunia, yakni Burj Dubai, Minggu (3/1) malam. Peresmian menara berlantai 160 itu sebenarnya berlangsung saat kondisi ekonomi Dubai belum pulih. Akibat krisis keuangan, harga properti justru merosot tajam, lebih dari separuh dalam setahun terakhir ini. Dunia juga tersentak setelah Dubai World, perusahaan investasi bonafide Dubai, meminta memorandum atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="Verdana;">Pemerintah Dubai akhirnya meresmikan menara tertinggi di dunia, yakni Burj Dubai, Minggu (3/1) malam. </span><span style="Verdana;" lang="FR">Peresmian menara berlantai 160 itu sebenarnya berlangsung saat kondisi ekonomi Dubai belum pulih. </span><span style="Verdana;">Akibat krisis keuangan, harga properti justru merosot tajam, lebih dari separuh dalam setahun terakhir ini. Dunia juga tersentak setelah Dubai World, perusahaan investasi bonafide </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;">, meminta memorandum atas utang kepada kreditor investor internasional tahun lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dubai World meminta penundaan pembayaran (<em>standstill</em>) cicilan utang 60 miliar dolar AS, selama enam bulan, dari total utang 80 miliar dolar AS. Pasar finansial di beberapa negara kembali bergetar. Pasar saham di </span><span style="Verdana;">Asia</span><span style="Verdana;"> dan Eropa anjlok. Sekalipun masih dibayang-bayangi krisis keuangan itu, proyek prestisius Burj Dubai yang mulai dikerjakan sejak tahun 2004 itu pun berhasil diselesaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Krisis ekonomi global tidak memberi ampun kepada </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> sehingga menceraiberaikan rencana ekonomi </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;">. Pertumbuhan Dubai awalnya bergantung pada pemasukan minyak, yang digunakan untuk menarik dana investor asing. Tidak lama, investor asing dan pekerja asing mulai berdatangan ke </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;">. Banyak perusahaan memindahkan kantor dan pegawainya ke </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> dan mendatangkan pemasukan untuk </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Hanya saja, pertumbuhan ini tidak bisa berkesinambungan. Pekerja terlatih yang membangun sektor jasa kebanyakan berasal dari luar negeri dengan sedikit sekali populasi </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> yang merupakan penduduk Arab asli. Pertumbuhan Dubai terjadi karena dibentuknya daerah bebas pajak bagi warga asing dan perusahaannya. Perusahaan-perusahaan tersebut—meskipun memberikan pekerjaan dan penghasilan kepada warga </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;">—tidak mentransfer teknologi ataupun keahlian. Pertumbuhan pasar properti juga terjadi akibat praktik spekulasi yang memprediksi kenaikan harga yang terus membumbung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> pun hanya sekadar mengeksploitasi sumberdaya alam yang terbatas dan mendatangkan keahlian asing; sedikit sekali terjadi transfer teknologi untuk menggerakkan roda ekonomi. </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> menjadi sekadar fatamorgana di </span><span style="Verdana;">padang</span><span style="Verdana;"> pasir; pertumbuhan dan kelanjutan hidupnya bergantung pada keahlian pihak asing. </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> hanya mampu memberikan jasa seperti perbankan, keuangan dan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi. Semua sektor ini sangat rentan terhadap kemauan dan keyakinan pihak asing. Apabila ada keraguan sedikit saja dari pihak asing, </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> pun akan mudah jatuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> mengakumulasi utang yang besar untuk membiayai proyek mercusuar dan </span><span style="Verdana;">gaya</span><span style="Verdana;"> hidup mewah untuk menarik perhatian orang asing. </span><span style="Verdana;" lang="FR">Pembangunan infrastruktur pulau membuat Dubai meminjam dana besar melalui instrumen Sukuk. </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> bahkan menekankan bahwa ia menggunakan sistem keuangan Islam dengan menjual Sukuk. Usulan untuk menggunakan Islam sebagai model ekonomi di </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> memang sudah semestinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Pembangunan ekonomi dalam Islam sudah dikaji secara mendalam dalam sejarah peradaban Islam. Islam menjadikan Khilafah sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk berdakwah dan membela umat dengan proses industrialisasi. Islam juga mewajibkan Khilafah untuk memenuhi kebutuhan mendasar setiap warga negara, yaitu pangan, sandang dan perumahan. Ini tidak bisa diwujudkan kalau ekonomi dipusatkan pada sektor jasa atau pelayanan, tetapi harus ditopang dengan industri dan pertanian. Dengan demikian, negara mampu memproduksi kebutuhannya sendiri dan mengekspornya ketika berlebih. Ketergantungan pada impor dan dana asing bukanlah jalan yang baik untuk membangun dan bertahan hidup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ekonomi Islam bertujuan agar ekonomi memihak warga negara sendiri bukan warga asing. Untuk menarik minat industri asing, pekerja dan dana, </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> banyak melakukan kompromi terhadap nilai-nilai Islam seperti pencampuran pria dan wanita serta penawaran minuman keras beralkohol sebagai bentuk kebutuhan. Kalaupun ada sebagian penerapan Islam, itu pun hanya sekadarnya saja. Padahal Islam sudah memiliki pola ekonomi dan keuangan Islam yang khas dan detil. Negara yang memberlakukan suatu kontrak keuangan yang bernuansa Islam tidak otomatis menjadikan negara tersebut negara Islam. Inggris adalah termasuk negara-negara yang pertama-tama menerbitkan Sukuk, tetapi tidak akan ada yang mengatakan bahwa Inggris menerapkan sistem ekonomi Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Ekonomi Islam juga dibangun di atas ekonomi riil dimana proses produksi adalah komoditas dan jasa yang nyata. Di lain pihak, sektor keuangan dalam Islam tidak boleh menjadi tujuan tersendiri dan itu sebabnya membungakan uang diharamkan. Seluruh kekayaan yang terproduksi dalam Islam melalui cara industri, pertambangan, penyulingan, rekayasa industri dan penjualan memiliki nilai tambah pada setiap tahap dan dengan sendirinya menciptakan kekayaan baru bagi ekonomi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Kebijakan keuangan dalam Islam mengatakan bahwa nilai tukar uang harus dikonversikan pada emas dan perak, bukan pada tingkat suku bunga yang selama ini dilakukan untuk mengatur inflasi dan ekonomi. Dalam masalah pertukaran komoditas dengan unit uang tertentu, Islam mengatur unit keuangan tersebut. Islam membatasi Khilafah dengan hanya membolehkan mata uang emas dan perak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Bukti dalam Islam mengatakan bahwa emas dan perak adalah standar unit keuangan sebagai patokan nilai barang dan jasa. Ini terlihat dari perbuatan Nabi Muhammad saw. ketika beliau mengumpulkan zakat, pajak dan denda yang semuanya dinilai menurut ukuran emas. </span><span style="Verdana;">Artinya, setiap keping mata uang yang beredar harus didukung oleh emas dan perak. Tidak akan lagi ada mata uang kertas yang bisa dicetak semaunya karena Khilafah harus memastikan bahwa setiap keping mata uang harus ada padanannya pada stok emas dan perak. Dengan demikian, inflasi unit uang tidak akan terjadi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Islam secara tegas mengharamkan transaksi keuangan murni dimana orang meminjamkan uang dengan berharap mendapatkan bunga. Semua perdagangan selalu terkait dengan aktivitas ekonomi riil yang terbentuk dari aktivitas konstruksi, pembangunan, industri, pelayanan atau produksi barang dan jasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Kesimpulannya, bukanlah hal yang mengejutkan ketika </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> tidak bisa membayar obligasinya tepat waktu karena sumber dana tunai telah terpotong, yaitu dana asing yang selama ini mengalir dan digunakan untuk proyek mercusuar. Mestinya Dubai menggunakan dana dan keahlian asing tersebut untuk membangun pusat penyulingan minyak. Akan tetapi, </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> justru terjebak dengan impian sistem keuangan, yang memang bisa mendatangkan kekayaan, tetapi tidak memberi </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> tambahan pengetahuan dan kemampuan teknologi. </span><span style="Verdana;">Dubai</span><span style="Verdana;"> sebenarnya bisa memimpin pada abad ke-21 ini dalam membangun ekonomi Islam yang sebenarnya dan menyatukan potensinya dengan seluruh umat Islam sedunia yang kaya dengan potensi alamnya. [Farid Wadjdi] </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/mimpi-yang-ambruk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamatkan Generasi Dengan Syariah</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/selamatkan-generasi-dengan-syariah/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/selamatkan-generasi-dengan-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18531</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya apa yang terjadi dengan generasi muda? Generasi adalah aset terbesar di banding dengan aset-aset negara yang lain. Apabila generasi baik maka sebuah negara akan maju karena memiliki calon pemimpin yang pandai dan berakhlak baik. Sebaliknya, kalau generasinya rusak maka negara itu tidak memiliki penerus yang berkualitas dan buruk akhlaknya.
Fakta yang terjadi sekarang, generasi sebagai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya apa yang terjadi dengan generasi muda? Generasi adalah aset terbesar di banding dengan aset-aset negara yang lain. Apabila generasi baik maka sebuah negara akan maju karena memiliki calon pemimpin yang pandai dan berakhlak baik. Sebaliknya, kalau generasinya rusak maka negara itu tidak memiliki penerus yang berkualitas dan buruk akhlaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Fakta yang terjadi sekarang, generasi sebagai penerus negara ini sedang mengalami kerusakan akhlak. Di jalan-jalan sering kita lihat tawuran antarpelajar sehingga aktivitas belajar tidak berjalan dengan maksimal; ketika ujian banyak siswa yang tidak lulus. Dalam pergaulan, remaja juga menyimpang dari syariah Allah seperti banyak terjadi kasus-kasus zina, pecandu narkoba dan minum-minuman keras. Upaya apa yang harus kita lakukan dalam mengatasi kerusakan generasi? Menyelamatkan generasi dari kehancuran adalah tugas kita semua baik orangtua, ulama, guru pada khususnya dan negara pada umumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Pemerintah kita kurang tegas meyikapi kasus remaja sekarang ini. Pemerintah malah memberikan peluang dengan beroperasinya tempat hiburan malam dan justru menyebabkan generasi kita bergaul semakin bebas. Orangtua tentu sangat khawatir dengan kerusakan remaja sekarang. Orangtua juga dituntut semaksimal mungkin memberikan nasihat ketika anak melakukan kesalahan, bukannya membiarkan anak bergaul bebas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju masa kedewasaan. Mereka menyebut “mencari jati diri”. </span><span style="Verdana;" lang="FR">Pada masa ini mereka mulai mengenal lawan jenis dan bergaul terlebih di era globalisasi sekarang. Untuk itu, sebagai generasi harus pandai dalam bergaul dan melakukan kegiatan yang bermanfaat, yaitu mencari ilmu-ilmu umum dan ilmu akhirat dengan mempelajari Islam secara keseluruhan. Yakinlah, generasi apabila di bekali dengan Ilmu akhirat akan mempunyai akidah yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan bebas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Negara kita memang belum menyeluruh mengikuti syariah Allah. Mungkin inilah yang menyebabkan musibah-musibah terjadi khususnya kerusakan generasi muda. Kita sangat prihatin dengan kasus-kasus remaja sekarang yang kita lihat di TV, media </span><span style="Verdana;">massa</span><span style="Verdana;"> dan lingkungan sekitar kita. Inilah akibat dari negara yang mengikuti paham sekularisme (pemisahan agama dan kehidupan). Mereka menganggap agama tidak berhak mengatur dalam kehidupan sehari-hari sehingga hukum Allah tidak ditegakkan. Untuk itu, generasi muda hendaknya ikut aktif dalam sebuah gerakan Islam yang bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dengan mengikuti syariah Allah. Semoga Khilafah (Negara Islam) yang dulu pernah ada akan segera tegak di bumi ini dan dengan generasi yang tentunya berakhlak karimah. Allahu Akbar! <strong>[Sri Retno Ningrum; </strong>Karehkel Leuwiliang-Bogor; Pengajar PAUD Al-Amin<strong>]</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/selamatkan-generasi-dengan-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Anak: Aset Masa Depan</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/anak-aset-masa-depan/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/anak-aset-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18532</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah kita membayangkan anak-anak kita kelak di akhirat akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka, bahkan memasukkan kita (orangtua) ke dalam syurga Allah SWT? Semua sepakat bahwa orangtua akan sangat senang dan bahkan itulah yang diharapkan: putra-putrinya menjadi ‘penolong’ kelak di akhirat.
Rasulullah saw. pernah bersabda, sebagaimana penuturan Anas bin Malik ra., “Pada Hari Kiamat kelak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="Verdana;">Pernahkah kita membayangkan anak-anak kita kelak di akhirat akan menyelamatkan kita dari siksa api neraka, bahkan memasukkan kita (orangtua) ke dalam syurga Allah SWT? Semua sepakat bahwa orangtua akan sangat senang dan bahkan itulah yang diharapkan: putra-putrinya menjadi ‘penolong’ kelak di akhirat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Rasulullah saw. pernah bersabda, sebagaimana penuturan Anas bin Malik ra., “Pada Hari Kiamat kelak diserulah anak-anak kaum Muslim, ‘Keluarlah kalian dari kubur kalian.’ Merekapun keluar dari kuburnya. Lalu, mereka diseru, ‘Masuklah ke dalam surga bersama-sama.’ Mereka berkata, ‘Duhai, Tuhan kami, apakah orangtua kami turut bersama kami?’ Hingga pertanyaan keempat kalinya menjawablah Dia, ‘Kedua orangtua kalian bersama kalian.’ Berloncatanlah setiap anak menuju ayah-ibunya, memeluk dan menggandeng mereka; mereka memasukkan orangtuanya ke dalam surga. Mereka lebih mengenal ayah dan ibu mereka pada hari itu melebihi pengenalan kalian terhadap anak-anak kalian di rumah kalian.” <em>(Kitab Nuzhah al-Majalis wa Muntakhib an-Nafais, ash-Shufuri, dikeluarkan oleh Abu Nu’aim dari jalan ath-Thabrani).</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Pernahkah kita membayangkan, satu keluarga, <em>abi</em>, <em>umi</em> dan anak-anak kita bermain-main bersama di Telaga Kautsar, telaga Rasulullah saw. di surga? Bukankah kondisi itu adalah kondisi yang paling diinginkan oleh keluarga Muslim? Bukankah kita ingin menjadi keluarga seperti itu? Bukankah kita juga ingin anak-anak kita nanti menjadi ‘penolong’ kita masuk dalam surga-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Tidaklah mungkin anak-anak kita akan menjadi penolong kita di akhirat kelak jika anak-anak kita tidak menjadi anak-anak yang shalih-shalihah. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain agar anak-anak kita bisa menjadi penolong kita nanti kecuali kita, sebagai orangtua mencetak dan mendidik anak-anak kita mengerti agama, mengamalkan syariah- Nya dan yang lebih penting lagi adalah menjadi penjaga terpercaya atas syiar dan tersebarnya syariah-Nya di muka bumi ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Kita sebagai orangtua harus membuat program yang tersusun rapi dan terencana tentang pendidikan anak kita. Kalau kita senantiasa sibuk membuat <em>planning business</em> kita, tidak layakkah kita membuat <em>planning</em> buat pendidikan anak-anak kita sehingga bisa menjadi anak shalih dan shalihah yang pada akhirnya menjadi penolong kita di akhirat kelak? Kalau kita gagal merencanakan pendidikan buat putra-putri kita, yakinlah putra-putri kita akan seperti apa adanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Sudah saatnya kita mem-<em>planning</em> pendidikan di rumah (pasca pendidikan sekolah) dengan pendidikan yang mengacu pada pembentukan <em>syakhsiyah islamiyah</em>. Sudah saatnya setiap kita mendidik anak kita dengan hapalan al-Quran dan al-Hadis. Setelah subuh kita ajari mereka tentang akhlak-akhlak yang mulia dan masih banyak program-program yang lain. Sudah selayaknya kita mengajari mereka dengan mulut kita sendiri (sebagai orangtua). Yakinlah, bahwa apa yang kita sampaikan dari mulut kita sendiri akan sangat membekas di hati dan pikiran anak-anak kita. Kita akan diposisikan sebagai orangtua sekaligus sebagai ‘guru’ yang senantiasa menginspirasi bagi anak-anaknya. <em>Wallâhu a’lam bi ash-shawâb.</em><strong> [Ummu Salma; </strong>Inspirator Anak Shalih/Shalihah, tinggal di </span><span style="Verdana;">Bogor</span><strong><span style="Verdana;">]</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/anak-aset-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Fatwa Konyol Syaikh Al-Azhar</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/fatwa-konyol-syaikh-al-azhar-2/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/fatwa-konyol-syaikh-al-azhar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:22:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Muhasabah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18533</guid>
		<description><![CDATA[Gaza kini lengkap sudah menyandang sebutan penjara, setelah pemerintah Mesir membangun tembok baja, yang memisahkan Gaza dan Mesir. Luas Gaza tidak lebih dari 500 km, dengan lebar 10 km dan panjang 50 km (Kalau di Jawa Timur kira-kira luasnya dari Bangil ke Probolinggo; dengan lebar hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil-Beji, atau sama dengan Tanjung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;"> kini lengkap sudah menyandang sebutan penjara, setelah pemerintah Mesir membangun tembok baja, yang memisahkan </span><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;"> dan Mesir. Luas Gaza tidak lebih dari 500 km, dengan lebar 10 km dan panjang 50 km (Kalau di Jawa Timur kira-kira luasnya dari Bangil ke Probolinggo; dengan lebar hanya sama dengan Probolinggo-Leces dan Bangil-Beji, atau sama dengan Tanjung Kodok ke Tuban). Kawasan seluas itu dihuni 1,5 juta orang. Karena itu, </span><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;"> merupakan kawasan terpadat di dunia. Wilayahnya berbukit, tetapi tidak bergunung. Dataran paling tinggi hanya 150 meter. Meski punya pesisir sepanjang 45 kilometer, seluruh akses ke laut tengah itu dikuasai </span><span style="Verdana;">Israel</span><span style="Verdana;">. Bandaranya juga dikuasai </span><span style="Verdana;">Israel</span><span style="Verdana;">. Untuk keluar dari Gaza, ada 8 pintu, 7 di antaranya dikuasai Israel, sedangkan 1 berbatasan dengan Mesir, yang dikenal dengan <em>Ma’bar Rafah</em> (Pintu Gerbang Rafah). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Justru di situlah musibahnya. Jika sebelumnya penduduk </span><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;"> bisa bertahan hidup dan mensuplai kebutuhan hidup mereka dari suplai logistik yang disalurkan melalui terowongan-terowongan yang menghubung-kan </span><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;"> dengan Mesir, kini terowongan-terowongan itu pun ditutup oleh pemerintah Mesir. Bukan hanya itu, atas perintah AS dan </span><span style="Verdana;">Israel</span><span style="Verdana;">, pemerintah Mesir membangun tembok baja di sepanjang perbatasan Mesir-Gaza. Seperti dilansir BBC, pembangunan tembok tersebut akan memakan waktu selama 18 bulan, dengan panjang 10-11 km (6-7 mil) dan memiliki tinggi 20-30 meter (70-100 kaki). Ketika pembangunan “tembok neraka” tersebut banyak mendapat kecaman dari berbagai ulama’ dan aktivis, baik dari dalam maupun luar Mesir, termasuk fatwa haram dari Dr. Yusuf Qaradhawi, penguasa Mesir malah memerintahkan para <em>jongos</em>-nya untuk mengeluarkan fatwa dengan dalih hak, tanah air hingga dalih <em>dharar</em>. Akhirnya, keluarlah fatwa konyol, yang menghalalkan pembangunan proyek gila itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Syaikh al-Azhar</span></em><span style="Verdana;">, Dr. Thanthawi, <em>ulama’ kacung</em>, yang dikenal lebih takut kepada Husni Mubarak ketimbang takut kepada Allah, adalah otak dari fatwa yang dinisbatkan pada <em>Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyyah </em>itu. Dr. Fahmi Huwaidi, penulis Mesir, dalam artikelnya yang dimuat oleh Koran <em>Asy-Syarq al-Qathariyyah</em> (</span><span style="Verdana;">3/1/2010</span><span style="Verdana;">) menyatakan, bahwa fatwa ini bukanlah fatwa <em>Majma’ al-Buhûts al-Islâmiyyah</em>, tetapi fatwa Dr. Thanthawi. Sebab, menurut pengakuan para anggota <em>Majma’ al-Buhûts</em>, pembahasan tentang pembangunan tembok tersebut tidak pernah ada dalam agenda pembahasan tanggal </span><span style="Verdana;">31/12/2009</span><span style="Verdana;"> yang lalu. Lalu tiba-tiba dalam konferensi pers yang dihadiri sejumlah media, Thanthawi menambahkan poin “kehalalan pembangunan tembok” tersebut saat membacakan hasil pembahasan <em>Majma’ al-Buhûts</em> sehingga tampak seolah-olah itu merupakan fatwa yang dikeluarkan oleh <em>Majma’ al-Buhûts</em>, padahal tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Tindakan kriminal <em>kacung </em>Husni Mubarak itu jelas tidak bisa diterima, baik oleh syariah maupun akal sehat. Bukankah Syaikh <em>kacung </em>dan anggota <em>Majma’ al-Buhûts </em>itu lebih tahu ketimbang yang lain tentang hadis Nabi yang menuturkan, bahwa ada seorang wanita masuk neraka gara-gara seekor kucing yang dia kerangkeng dan tidak diberi makan. Pertanyaannya, jika terhadap seekor kucing saja, balasannya neraka, lalu bagaimana dengan tindakan penguasa Mesir yang memblokade dan membuat 1,5 juta penduduk </span><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;"> kelaparan? Bagaimana pula hukum orang yang bersekongkol dalam tindakan kriminal tersebut? Karena itu, kata Dr. Fahmi Huwaidi, “Dia (Syaikh <em>kacung</em>) memang layak mendapatkan laknat dan siksa dari Allah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Tindakan ini bahkan sangat kontras dengan sikap para aktivis HAM Barat, yang datang dari berbagai penjuru dunia ke Mesir untuk mengecam pembangunan tembok dan menuntut dicabutnya blokade. Tindakan ini pun tak ayal membuat orang Mesir malu menjadi rakyat Mesir, karena tindakan penguasanya yang biadab. Bahkan fatwa konyol ini telah mempermalukan umat Islam dan ulama kaum Muslim. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ya, Tragedi Gaza memang telah berlalu setahun lalu. Namun, penderitaan kaum Muslim di </span><span style="Verdana;">sana</span><span style="Verdana;"> belum juga berakhir. Setiap saat kehidupan mereka selalu terancam. AS, Inggris dan negara-negara Barat, termasuk PBB, yang konon berjuang keras mewujudkan perdamaian di Timur Tengah, malah meningkatkan bantuan militer mereka kepada </span><span style="Verdana;">Israel</span><span style="Verdana;">, dengan dalih untuk menjaga keamanan. Di sisi lain, umat Islam tidak boleh memiliki persenjataan, baik ringan maupun berat, sebagaimana yang mereka lakukan pasca serangan brutal mereka tahun lalu: melucuti senjata Hamas dan kelompok perlawanan yang ada di </span><span style="Verdana;">Gaza</span><span style="Verdana;">, tentu juga dengan dalih menjaga keamanan. Ironi memang. </span><span style="Verdana;">Israel</span><span style="Verdana;"> yang terus-menerus melakukan pembantaian dan pencaplokan wilayah selalu dipersenjatai dan didukung penuh oleh Barat, sementara umat Islam yang membela diri tidak boleh mempunyai senjata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Jelas sudah, yang dihadapi oleh kaum Muslim di Palestina umumnya, dan Gaza, khususnya, adalah masalah pendudukan, yang identik dengan masalah militer. Karena itu, untuk mengakhiri derita mereka, satu-satunya cara yang diajarkan oleh Islam adalah dengan menyelesaikannya secara militer, yaitu mengirim tentara kaum Muslim untuk berjihad melawan </span><span style="Verdana;">Israel</span><span style="Verdana;">. Dana, bantuan logistik dan kemanusiaan yang telah diberikan, meski telah mampu meringankan penderitaan mereka, terbukti tidak pernah mampu menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Namun, pengiriman tentara kaum Muslim ke </span><span style="Verdana;">sana</span><span style="Verdana;"> nyatanya terhalang oleh <em>political will</em> penguasa, yang umumnya menjadi antek negara-negara kafir penjajah. </span><span style="Verdana;" lang="FR">Karena itu, umat Islam tidak boleh berdiam diri terhadap pengkhianatan para penguasa mereka. Umat juga tidak boleh tertipu dengan retorika manis mereka. Di satu sisi, mereka menunjukkan sikap bermusuhan dengan Israel, namun di sisi lain membuka hubungan diplomatik, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Erdogan. </span><span style="Verdana;">Ada</span><span style="Verdana;"> juga yang tampak tidak membuka hubungan diplomatik, tetapi menjalin hubungan diam-diam, seperti yang dilakukan </span><span style="Verdana;">Indonesia</span><span style="Verdana;">. Jika para penguasa itu memang tidak bisa diharapkan, maka harus ada arus baru yang dijadikan kiblat politik umat; sebuah arus yang dipimpin oleh kekuatan politik yang bergerak dan terjun di tengah-tengah umat. Melalui proses edukasi, artikulasi dan agregasi yang terus-menerus dilakukan, pada akhirnya arus baru itu benar-benar akan terbentuk dan menjadi harapan umat; bukan hanya di </span><span style="Verdana;">Indonesia</span><span style="Verdana;">, tetapi di seluruh dunia. Pada akhirnya, Allah pun akan mewariskan bumi-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang salih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ، بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Pada hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Mahaperkasa lagi Penyayang </span></em><span style="Verdana;">(QS ar-Rum [30]: 4-5) []</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/fatwa-konyol-syaikh-al-azhar-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kemungkaran Marak!</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/kemungkaran-marak/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/kemungkaran-marak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:20:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Fokus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18534</guid>
		<description><![CDATA[Uang recehan sejumlah Rp 650.364.550 diangkut dari Posko Koin Keadilan Prita di Jalan Langsat Jaksel ke Bank Indonesia untuk divalidasi, 23 Desember lalu. Bila ditambah dengan sumbangan yang bukan koin maka total uang yang terkumpul dari seluruh Indonesia itu Rp 825.728.550.
Tidak terbayang sebelumnya kalau Prita mampu mengumpulkan uang koin hampir menembus nominal satu miliar rupiah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="Verdana;">Uang recehan sejumlah Rp 650.364.550 diangkut dari Posko Koin Keadilan Prita di Jalan Langsat Jaksel ke Bank </span><span style="Verdana;">Indonesia</span><span style="Verdana;"> untuk divalidasi, 23 Desember lalu. Bila ditambah dengan sumbangan yang bukan koin maka total uang yang terkumpul dari seluruh </span><span style="Verdana;">Indonesia</span><span style="Verdana;"> itu Rp 825.728.550.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Tidak terbayang sebelumnya kalau Prita mampu mengumpulkan uang koin hampir menembus nominal satu miliar rupiah. Padahal tuntutan perdata RS Omni Internasional hanya 204 juta saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Siapa pencetus pengumpulan koin keadilan untuk Prita ini? Pastinya bukan kalangan ulama. Mungkin kalau kasus Prita ini terjadi di </span><span style="Verdana;">Iran</span><span style="Verdana;">, penggagas koin Prita adalah ulama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Karena terjadi di negeri ini, maka yang mempunyai ide cemerlang ini—sehingga membuat Omni mencabut tuntutannya—adalah orang-orang biasa saja yang tinggi kepekaan sosialnya. Demikian ungkap Dr. KH Ahmad Nawawi, MA, Ketua MUI Depok, Jawa Barat. Karena, “</span><span style="Verdana;">Para</span><span style="Verdana;"> ulama dipojokkan pada sisi ibadah ritual saja dan dianggap bukan wilayahnya kalau mengurusi masalah di bidang lain sehingga pada kasus Prita pun peranan ulama tidak menonjol,” ujarnya pada acara Refleksi Akhir Tahun 2009 di Depok, Sabtu (</span><span style="Verdana;">26/12/2009</span><span style="Verdana;">). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><strong><span style="Verdana;"><br />
Salah Persepsi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Saat beberapa tahun lalu Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto mengajak berbagai elemen, terutama tokoh-tokoh ormas Islam, untuk menolak kemungkaran Pemerintah yang menaikan harga BBM, ia mendapatkan penolakan dari seorang tokoh yang memandang kemungkaran itu ya seputar penyimpangan dari akidah ataupun ibadah. “Ya kalau BBM ini </span><span style="Verdana;">kan</span><span style="Verdana;"> soal ekonomi. Itu </span><span style="Verdana;">kan</span><span style="Verdana;"> soal perut. Kalau Ahmadiyah ini </span><span style="Verdana;">kan</span><span style="Verdana;"> persoalan akidah. Jadi masalah Ahmadiyah lebih penting ketimbang BBM,” ujar Ismail Yusanto menirukan jawaban tokoh tersebut saat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Hal serupa dialami oleh Ketua Lajnah Fa’aliyah Muhammad Rahmat Kurnia. Saat itu ia menjadi khatib Jumat di salah satu masjid di Ciremai Ujung </span><span style="Verdana;">Kota</span><span style="Verdana;"> </span><span style="Verdana;">Bogor</span><span style="Verdana;">, medio 2004. Usai shalat Jumat ia ditegur oleh sekretaris DKM masjid tersebut, “Khutbah kok ngebahas tentang banjir, ngebahas tentang malapetaka yang diakibatkan kezaliman penguasa, bukan ngebahas tentang shalat. Politik kok dibawa-bawa ke masjid, </span><span style="Verdana;">kan</span><span style="Verdana;"> kotor,” kenang Rahmat menirukan sang sekretaris DKM. Dampaknya, ia dimusuhi oleh sekretaris DKM itu dan beberapa tokoh setempat. </span><span style="Verdana;" lang="FR">Ia pun dilarang untuk khutbah lagi, apalagi mengisi pengajian di sana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Pengalaman senada diceritakan Ketua Lajnah Siyasiyah Harits Abu Ulya kepada penulis<em>.</em> Ia menjadi makmum shalat Jumat di Masjid Baitul Muttaqin daerah Sukodami Gubeng Surabaya beberapa tahun lalu. <em>“</em>Tidak perlu kita pusing dan serahkan saja kepada ahlinya. Ada hadits yang jelas menyebutkan <em>antum a’lamu bi umurid dunyakum</em>. </span><span style="Verdana;">Jadi, tidak perlu lagi berteriak menyuarakan syariah Islam, bahkan menuntut menjadi undang-undang negera. Kita ini sudah menjalankan syariah, dengan shalat, zakat, puasa, haji dan lainnya,” kata Abu Ulya menirukan khutbah sang khatib.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Lihatlah betapa sensitifnya umat saat mengetahui adanya kemungkaran berupa pelecehan terhadap Kitab Suci al-Quran oleh tentara Amerika di kamp tahanan Teluk Guantanamo di Kuba. </span><span style="Verdana;">Para</span><span style="Verdana;"> pemimpin ormas dan parpol Islam membakar perasaan umat untuk sama-sama mengutuk penistaan itu. Umat ramai-ramai mengutuk para pelaku pelecehan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Penistaan pada semester awal 2005 itu, seperti yang diberitakan majalah mingguan terbitan Amerika, <em>Newsweek</em>, dilakukan para penjaga kamp militer tersebut dengan cara meletakkan lembaran-lembaran Kitab Suci al-Quran di dalam toilet, dan kemudian memasukkan sebagian-sebagian ke lubang WC. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Mewakili perasaan umat Islam, orang nomor dua di salah satu parpol Islam mengatakan, “Kasus pelecehan terhadap al-Quran di </span><span style="Verdana;">Guantanamo</span><span style="Verdana;"> oleh tentara AS telah memperparah luka hati umat Islam sedunia terhadap pemerintahan Presiden Bush. Ini memudahkan segenap Muslim untuk menafsirkan kejadian itu sebagai serangan langsung ke jantung Islam.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Namun sayang, ekspresi yang sama tidak ditunjukkan parpol Islam tersebut dan parpol Islam lainnya saat ada kemungkaran yang lebih dahsyat lagi di Senayan, yakni berupa pelecehan terhadap isi al-Quran, dengan mengesahkan berbagai UU yang bertentangan dengan syariah Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Adakah parpol Islam di parlemen yang menyatakan bahwa semua UU yang terkait dengan hajat hidup orang banyak itu bertentangan dengan syariah, termasuk UU Ketenagalistrikan, UU Penanaman Modal, UU Minerba, UU Sumber Daya Air? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Kemandulan parpol Islam di dalam sistem itulah yang membuat pendiri PKS Mashadi meradang. Ia menyatakan bahwa parpol Islam ternyata hanya menjadi komplementer penguasa yang sekular. Semestinya parpol Islam menjadi garda paling depan untuk mencari solusi yang bersumber dari prinsip-prinsip ajaran Islam. Namun nyatanya, yang terjadi malah sebaliknya. Parpol Islam malah lebih mengutamakan bekerjasama dengan parpol sekular. Akhirnya, terjadi kompromi. Mau tidak mau, dengan kompromi, parpol Islam itu akan meninggalkan prinsip-prinsip akidah Islam. Alih-alih menegakkan prinsip Islam, yang muncul malah parpol Islam terbawa <em>mainstream </em>arus neoliberal sekular itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Walhasil, amar makruf nahi mungkar yang seharusnya digelorakan parpol Islam semakin redup dan tidak terdengar. Padahal itu adalah prinsip utama yang harus dipegang teguh kaum Muslim. “Tetapi sejak adanya koalisi rupanya prinsip itu dilanggar. Itu tentu merupakan tindakan yang mengkerdilkan Islam dan umat Islam,” ungkapnya kepada penulis, Rabu (</span><span style="Verdana;">30/12/2009</span><span style="Verdana;">). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Umat Islam marah saat Nabi Muhammad saw. dilecehkan oleh kartunis </span><span style="Verdana;">Denmark</span><span style="Verdana;"> dengan menggambarkan beliau sebagai lelaki bersorban bom. Namun, mengapa mereka tetap antusias memilih kembali orang yang terbukti selama </span><span style="Verdana;">lima</span><span style="Verdana;"> tahun telah melecehkan Nabi Muhammad saw. dengan melaksanakan kebijakan neoliberal yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran beliau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Kebijakan mungkar tersebut di antaranya seperti melakukan privatisasi, pencabutan subsidi, dan penguasaan energi dan sumberdaya alam lainnya oleh asing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dampaknya, semakin hari kezaliman penguasa semakin menguat dan kemungkaran di tengah-tengah umat semakin meluas. Bahkan sampai ada anggapan bahwa Islam tidak memberikan solusi bagi kehidupan sehingga solusinya bisa diadopsi dari liberalisme atau sosialisme. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Rakyat miskin semakin bertambah. Nasib mayoritas negeri ini seperti anak ayam yang mati kelaparan di atas tumpukan padi. Negeri ini kaya dengan sumberdaya alam, tetapi hasilnya dinikmati sebesar-besarnya untuk kepentingan korporasi, terutama korporasi asing. Akibatnya, seperti yang diungkap oleh intelektual Muslim Dr. Fahmi Amhar saat memberikan orasi intelektual pada Konferensi Mahasiswa Islam Indonesia (KMII), Ahad (18/10/2009), sumberdaya alam yang besar ini nyaris tidak membawa berkah karena tidak dikelola dengan benar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"><br />
<strong>Ekonomi Syariah</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Pengelolaan yang benar dan berkah tidak lain adalah dengan syariah. Namun, yang dimaksud di sini tidak sekadar syariah dalam pengertian mikro seperti pembiayaan syariah, tetapi dalam pengertian makro, yakni kebijakan publik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dalam syariah Islam, SDA yang jumlahnya besar tidak boleh diserahkan kepemilikannya kepada individu. Individu yang mengelolanya wajib diperlakukan sebagai pekerja (<em>ajir</em>) dan bukannya <em>mudhârib</em> (pengelola dalam suatu akad <em>syirkah</em>). Sebagai <em>ajir</em>, dia mendapat upah yang sesuai dengan tenaga profesional yang dia keluarkan, bukan sesuai dengan hasilnya, karena hasil usaha SDA hakikatnya adalah milik publik. Hutan, laut, sumberdaya mineral, energi bahkan keindahan alam, hakikatnya adalah milik publik. Hasil dari setiap eksploitasi komersialnya seharusnya dikembalikan untuk kemaslahatan umum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Pada masa lalu, Abyadh bin Hammal pernah meminta kepada Rasul saw. untuk dapat mengelola suatu tambang garam. Rasul saw. semula meluluskan permintaan itu, tetapi beliau segera diingatkan oleh seorang sahabat. “Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (<em>ma’u al-‘iddu</em>).” Rasulullah saw. kemudian bersabda, “<em>Tariklah tambang tersebut darinya!</em>” (HR at-Tirmidzi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Penarikan kembali pemberian Rasul saw. kepada Abyadh adalah <em>illat</em> (alasan) dari larangan untuk menguasai milik umum, termasuk dalam hal ini barang tambang yang kandungannya terlalu banyak untuk dimiliki individu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Hal yang sama dinyatakan oleh Rasulullah saw., “<em>Manusia berserikat dalam air, api, dan </em></span><em><span style="Verdana;">padang</span></em><em><span style="Verdana;"> gembalaan.</span></em><span style="Verdana;">” (HR Abu Dawud, Ahmad dan Ibnu Majah). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Air, api dan </span><span style="Verdana;">padang</span><span style="Verdana;"> gembalaan adalah sumber penghidupan bagi suatu masyarakat, yang apabila tidak tersedia, pasti mereka tercerai berai, dan oleh karena itu ketiganya harus menjadi milik publik. “Untuk konteks modern, air adalah sumber air utama, misalnya yang mensuplai PDAM. Api adalah sumber energi. Bila energi ini berasal dari migas maka sumur migasnya adalah milik publik. </span><span style="Verdana;">Padang</span><span style="Verdana;"> gembalaan dapat berarti lahan hayati yang besar seperti hutan. Jadi hutan milik publik,” jelas Fahmi di hadapan 5000 mahasiswa dari berbagai kampus di </span><span style="Verdana;">Indonesia</span><span style="Verdana;"> itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Lebih lanjut, Fahmi menyatakan, berdasarkan <em>sunnah fi’liyah </em>Nabi Muhammad saw. tersebut maka negara akan berperan sebagai wakil masyarakat ketika mengelola SDA ini. Bagaimanapun negara harus bertindak ketika mekanisme pasar yang sebenarnya tidak lagi dapat diharapkan. <em>Pertama</em>:<em> </em>Negara harus melindungi keselamatan umat. Faktanya sulit meminta swasta memperhatikan keselamatan warga secara umum (peran sosial), sesulit membiarkan masyarakat berhadapan langsung dengan korporasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Kedua</span></em><span style="Verdana;">:<em> </em>Negara harus melindungi kelestarian lingkungan. Sulit swasta diminta mereklamasi bekas lokasi pertambangan (peran lingkungan). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Ketiga</span></em><span style="Verdana;">:<em> Community Social Responsibility</em> itu baru teori. Faktanya CSR ini banyak menjadi lahan kolusi antara korporasi dan pihak-pihak yang ingin mendapat uang, atas nama donasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Itulah solusi Islam di bidang tersebut. Jelas, pelanggaran terhadap perkara ini terkategori mungkar. Semua kemungkaran wajib dihentikan. Sayang, kemungkaran tersebut sampai saat ini tetap saja berlangsung sehingga menimbulkan kemungkaran-kemungkaran yang baru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Saat ini kultur yang ada demikian kuat berada dalam cengkeraman dan praktik <em>fasluddin ‘anil hayat</em> (sekulerisme; pemisahan urusan dunia dari agama). “Akibatnya, individu yang tidak tercerahkan dengan Islam sebagai ideologinya akan terkooptasi dan akhirnya terjerembab dalam sikap abai terhadap realitas-realtas buruk pada aspek kehidupan politik mereka yang hakikatnya kontra dengan akidah dan syariahnya,” ujar Abu Ulya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Bahkan mereka menjadi terlena ketika aspek spiritualitas terpuaskan dengan memfokuskan diri pada usaha-usaha mewujudkan kesalihan individual dengan wasilah berbagai majelis zikir, bengkel <em>qalbu </em>dan semisalnya. “Sehingga bisa jadi kebanyakan dari kita merasa bakal masuk surga kalau sudah memimpin Yasinan dan Tahlilan meskipun mencari uangnya dengan cara yang salah,” keluh KH Ahmad Nawawi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Namun, perlu diingat, masih ada variabel penting lain yang menjadikan umat bersikap abai terhadap kewajiban amar makruf nahi mungkar pada kehidupan politiknya. Peran para ulama dan kelompok-kelompok dakwah Islam secara langsung atau tidak dengan paradigma pemikiran dan metode dakwahnya memberikan sumbangsih sikap abainya umat. Ini perlu kejujuran untuk membuka diri melakukan <em>muhâsabah</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dalam dakwah, kita menjumpai sikap dan pemikiran yang pragmatis. Contoh: kemungkaran diartikulasikan hanya pada </span><span style="Verdana;">lima</span><span style="Verdana;"> perkara yang akrab di telinga, yakni konsep <em>Mo-Limo</em> (<em>madat/</em>narkoba<em>, minum/</em>mabuk<em>, maling/</em>mencuri<em>, main/j</em>udi<em> dan madon/</em>melacur). Dakwah hanya fokus pada terma-terma tertentu dan tidak holistik melihat realitas kemungkaran, misalkan masalah bid’ah<em>, </em>tahayul<em> </em>dan<em> </em>khurafat. Yang justru kontra produktif adalah seruan kepada umat untuk membisu atas kelaliman penguasa, untuk selalu taat sekalipun penguasa zalim bahkan lebih dari zalim, yakni telah melemparkan Islam sebagai sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Substansi-substansi dakwah ini tidak ada yang salah. Namun, kita perlu jujur membuka diri bahwa kemungkaran tidak sebatas wilayah itu. Ada kemungkaran yang datangnya dari penguasa yang akan menjadi akar bagi kemungkaran lainnya. Ibarat sungai, air di dalamnya jernih atau tidak sangat bergantung pada sumber mataairnya (hulu). Begitulah posisi penguasa; kebaikan dan kemunkarannya akan memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Dalam Islam seorang penguasa yang mencampakkan hukum-hukum Allah dalam kehidupan politik masyarakatnya adalah pelaku kemungkaran terbesar. Islam mewajibkan umatnya untuk mengubah kemungkaran itu, bukan diam membisu dan mengiyakan bahkan berserikat menyokong eksistensi kemungkaran tersebut [Joko Prasetyo]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/kemungkaran-marak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Merespon Kemungkaran</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/cara-merespon-kemungkaran/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/cara-merespon-kemungkaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:18:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Analisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18535</guid>
		<description><![CDATA[ Salah satu kewajiban penting yang harus dipikul seorang Muslim adalah mencegah kemungkaran. Begitu pentingnya kewajiban ini, Allah SWT memaklumkan: jika kewajiban ini ditinggalkan, niscaya Dia akan meratakan azab-Nya, baik kepada orang yang melakukan kemungkaran maupun tidak. Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
 
Peliharalah diri kalian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--> <span style="Verdana;">Salah satu kewajiban penting yang harus dipikul seorang Muslim adalah mencegah kemungkaran. Begitu pentingnya kewajiban ini, Allah SWT memaklumkan: jika kewajiban ini ditinggalkan, niscaya Dia akan meratakan azab-Nya, baik kepada orang yang melakukan kemungkaran maupun tidak. Allah SWT berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="Verdana;" dir="ltr"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah amat keras hukuman-Nya </span></em><span style="Verdana;">(QS al-Anfal [8]: 25).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dorongan untuk mencegah kemungkaran juga dituturkan di dalam banyak hadis, Nabi saw., misalnya, bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="black;" lang="AR-SA">وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ يُسْتَجَابُ لَكُمْ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Demi Zat Yang jiwaku ada dalam genggaman tangan-Nya, kalian benar-benar melakukan amar makruf nahi mungkar atau Allah akan menimpakan hukuman kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada Allah, sementara doa itu tidak dikabulkan untuk kalian </span></em><span style="Verdana;">(HR at-Tirmidzi).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Sayang, kewajiban ini sudah diabaikan oleh kebanyakan kaum Muslim. Tidak hanya oleh kalangan awam saja, pihak-pihak yang <em>notabene</em> memahami Islam bahkan mendapat gelar ulama, kiai, ustadz dan habib juga banyak yang mengabaikan kewajiban ini. Dengan alasan menghindari risiko yang lebih besar, mereka membatasi diri pada seruan yang bersifat individual; semacam perbaikan akhlak dan ibadah<em> mahdhah</em>, nasihat dan petunjuk. Mereka berusaha untuk tidak berbenturan dengan pelaku-pelaku kemungkaran, semacam penguasa yang menerapkan hukum kufur, <em>ulama su’</em> dan kaum fasik. Sedihnya lagi, di antara mereka ada yang malah mengabdikan diri kepada para penguasa fasik, zalim dan kafir. Mereka menjadi perpanjangan tangan dan alat legitimasi atas keputusan-keputusan menyimpang para penguasa jahat itu. Akibatnya, kemungkaran dan kemaksiatan semakin merajalela dan <em>legitimated</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Kenyataan seperti ini mengharuskan kaum Muslim untuk melihat kembali hakikat Islam dalam merespon kemungkaran agar perubahan menuju masyarakat islami benar-benar bisa diwujudkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"><br />
<strong>Mendudukkan Persoalan</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Di antara fenomena salah yang harus diluruskan adalah adanya upaya memisahkan akidah Islam dari seruan dakwah dan pandangan sempit terhadap akidah Islam. Selain karena ketidaktahuan, tindakan memisahkan dakwah dari akidah dan simbol-simbol Islam juga dilatarbelakangi oleh pandangan yang salah terhadap dakwah Islam. Dengan alasan strategi dan pendekatan dakwah, sebagian orang akhirnya memilih untuk menjauhi sejauh-jauhnya akidah dan simbol Islam. Padahal perbuatan seorang Muslim harus selalu berlandaskan akidah Islam. Seorang Muslim dilarang memisahkan perbuatannya dari akidah Islam. Pasalnya, perbuatan adalah refleksi dan cabang (<em>furû’</em>) dari akidah Islam. Seorang Muslim, ketika menyerukan <em>akhlak</em>, misalnya, tidak boleh menyatakan bahwa akhlak yang ia serukan itu bersumber dari nilai-nilai universal, Injil, Taurat, Weda, Zen, maupun teori-teori yang digagas oleh pemikir-pemikir kafir Barat. Perbuatan seperti ini jelas-jelas telah memisahkan seruan akhlak dari akidah Islam. Akibatnya, akhlak yang mereka serukan tak ubahnya dengan akhlak yang diserukan oleh pendeta Yahudi, kaum ateis, Budhis, dan lain-lain. Seruan semacam ini, selain menggugurkan pahala amal, juga telah mengeleminasi tujuan dakwah Islam, yakni mengajak manusia masuk ke dalam Islam secara <em>kâffah</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ironisnya, tindakan memisahkan akidah Islam dari dakwah justru dianggap sebuah keharusan demi apa yang mereka sebut dengan strategi dakwah. Dengan alasan khawatir <em>audiens</em> menjauhi Islam, akhirnya mereka menyatakan bahwa apa yang mereka sampaikan bukan dakwah Islam dan berusaha membuang baju dan simbol Islam. Padahal dakwah Islam itu ditegakkan untuk menunjukkan keunggulan dan keagungan Islam agar orang-orang kafir rela memeluk agama Islam, atau agar umat Islam mau menerapkan Islam dalam seluruh dimensi kehidupan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Akidah Islam bukan sekadar akidah yang menjadi dasar pengaturan urusan akhirat saja (akidah ruhiah), tetapi juga menjadi dasar atas pengaturan urusan dunia (akidah <em>siyâsiyyah</em>). Atas dasar itu, dakwah Islam tidak cukup hanya menyerukan aspek-aspek keakhiratan belaka, seperti iman pada hari akhir, pahala dan siksa, ibadah dan lain sebagainya. Dakwah Islam harus menyerukan pula aspek-aspek pengaturan urusan dunia, semacam keharusan terikat dengan hukum Islam dalam urusan ekonomi, politik, peradilan, sosial, keluarga dan lain-lain; serta keharusan meninggalkan keyakinan dan hukum-hukum kufur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Fenomena<span> </span>lain yang perlu dicermati adalah adanya pandangan sempit dan keliru sebagian besar kaum Muslim terhadap kemungkaran. Banyak orang tahu, jika seorang Muslim menyakini ajaran Trinitas, maka ia telah keluar dari Islam. Namun, kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa menyakini sekularisme, demokrasi, pluralisme dan liberalisme adalah kemurtadan. Banyak orang paham, menolong dan mendukung aksi perampokan dan perzinaan adalah tindak kemaksiatan dan kefasikan. Sebaliknya, mendukung dan melibatkan diri dalam partai dan sistem sekular tidak dianggap sebagai tindak kefasikan. Padahal memberikan dukungan dan bersekutu dalam partai dan sistem pemerintahan sekular termasuk kemaksiatan yang berdampak luas terhadap Islam dan kaum Muslim. Kekeliruan semacam ini disebabkan karena pandangan sebagian besar umat Islam terhadap kemaksiatan dan kemungkaran amatlah sempit. Padahal dalam pandangan Islam, semua bentuk pelanggaran dan penyimpangan terhadap akidah dan syariah Islam, apapun bentuknya adalah kemungkaran. Menerapkan sistem pemerintahan demokrasi dan hukum-hukum sekular adalah kemungkaran. </span><span style="Verdana;" lang="FR">Meyakini nasionalisme, pluralisme dan isme-isme lain di luar Islam adalah kemungkaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Fenomena lain yang juga harus diluruskan adalah adanya pandangan sebagian orang yang mencukupkan diri pada aktivitas perubahan yang bersifat individual, semacam perbaikan akhlak, ibadah, <em>tazkiyatun-nafs</em> dan lain-lain sebagainya. Mereka beralasan bahwa dakwah harus dimulai dari perbaikan individu (<em>ibda’ binafsik</em>). Benar, perubahan masyarakat harus dimulai dari perubahan individu. Namun, keliru jika dakwah hanya sebatas pada perubahan individu belaka. Pasalnya, dakwah semacam itu (<em>concern</em> dan fokus pada perubahan individu saja) tidak dicontohkan oleh Nabi saw. dan para sahabat. Nabi saw. dan para sahabat tidak hanya mencukupkan diri pada perubahan individu belaka. Mereka juga berjuang untuk menegakkan kekuasaan Islam agar Islam bisa diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Realitas dakwah Nabi saw. jelas-jelas menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah saw. ditujukan untuk mengubah masyarakat, bukan berhenti pada pembentukan individu-individu yang berakhlak mulia dan taat ibadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Sesungguhnya perbaikan individu pada diri para sahabat merupakan tahapan untuk mempersiapkan dan membekali mereka agar mereka mampu menempuh aktivitas-aktivitas dakwah berikutnya, seperti <em>tafâ’ul ma’al ummah, thalabun nushrah </em>hingga<em> jihâd fî sabîlillâh</em>. Realitas dakwah seperti ini tampak jelas di dalam sirah Nabi saw. Atas dasar itu, sebuah kesalahan fatal jika ada sebagian kaum Muslim yang hanya membatasi dirinya pada aktivitas-aktivitas perubahan individual. Aktivitas perubahan harus diarahkan sedemikian rupa hingga terjadi perubahan pada struktur masyarakat, negara dan aturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat; bukan hanya diarahkan sebatas pada perubahan individu belaka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Fenomena lain yang harus diluruskan adalah adanya pandangan sebagian orang bahwa ibadah<em> mahdhah</em> harus mendapatkan porsi perhatian yang lebih dibandingkan dengan kewajiban-kewajiban lain. Bahkan sebagian orang menyatakan bahwa perbaikan kualitas ibadah <em>mahdhah</em> lebih penting daripada dakwah menegakkan Khilafah dan syariah. Akibatnya, muncullah fenomena ganjil yang sangat bertentangan dengan Islam. Banyak orang rajin menjalankan ibadah <em>mahdhah</em>, seperti shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya serta tekun memperbaiki kualitas ibadah <em>mahdhah</em>-nya. Anehnya, mereka menolak syariah dan berdiam diri terhadap kemungkaran. Padahal ibadah <em>mahdhah</em> ditunaikan untuk memperkuat iman dan ketaatan seorang Muslim kepada Allah SWT. Jika seseorang rajin menjalankan ibadah <em>mahdhah</em>, baik yang wajib maupun sunnah, niscaya iman dan ketaatannya kepada Allah akan semakin meningkat, dan ini terlihat dari keinginannya yang kuat untuk memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah Islamiyah. Sayang, ibadah <em>mahdhah</em> belum dipersepsi secara benar sehingga belum memberikan pengaruh bagi tegaknya kewajiban-kewajiban Allah SWT yang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Fenomena berikutnya yang harus dicermati adalah adanya organisasi atau gerakan yang memfokuskan dirinya hanya pada aktivitas-aktivitas sosial (<em>jam’iyyah khairiyyah</em>), semacam menerbitkan dan membagikan al-Quran dan buku-buku keislaman, perbaikan masjid, menyantuni kaum papa, dan lain sebagainya. Gerakan-gerakan ini biasanya hanya membatasi diri pada aktivitas-aktivitas sosial belaka dan menjauhi aktivitas-aktivitas dakwah yang berbau politis. Mereka beralasan bahwa dakwah seperti itu lebih netral, praktis dan langsung bisa dirasakan manfaatnya oleh umat. Mereka lupa bahwa dakwah harus selalu sejalan dengan <em>manhaj</em> dakwah Nabi saw. Memang benar, aktivitas sosial termasuk perbuatan terpuji. Namun, menjadikan aktivitas sosial sebagai fokus dan <em>tharîqah</em> dakwah tentu tidak sesuai dengan <em>manhaj</em> dakwah Nabi saw. Pasalnya, Nabi saw. dan sahabat tidak mencontohkan dakwah semacam itu. Beliau dan para sahabat tidak menjadikan aktivitas-aktivitas sosial sebagai <em>manhaj</em> untuk mengubah masyarakat Jahiliah menuju masyarakat Islam. Beliau juga tidak menjadikan masalah tersebut sebagai fokus dakwah. Bahkan ketika para sahabat disiksa dan diintimidasi, beliau hanya memerintahkan mereka bersabar hingga datang ketentuan Allah. Selain itu, tujuan utama dakwah adalah menegakkan kembali hukum-hukum Allah SWT dalam kehidupan individu, masyarakat dan negara; bukan sebatas untuk menyantuni anak yatim, mencetak al-Quran dan lain sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Atas dasar itu, tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa gerakan-gerakan seperti ini justru akan memalingkan umat Islam dari tujuan dakwah sebenarnya—yakni menegakkan syariah Islam—pada akvitas cabang. Karena itu, gerakan dan organisasi Islam tidak boleh menjadikan aktivitas sosial sebagai <em>manhaj</em> dakwahnya dan sebagai fokus utama perjuangannya. Selain tidak sesuai dengan dengan <em>manhaj</em> dakwah Nabi saw., aktivitas semacam ini tidak akan mampu menyelesaikan seluruh problem yang mendera umat Islam, bahkan akan memalingkan umat dari tujuan dakwah sebenarnya, yakni menegakkan syariah Islam dalam seluruh dimensi kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Dari seluruh fenomena di atas dapat disimpulkan bahwa dakwah Islam harus disampaikan dengan terus-terang, dan diarahkan tidak hanya untuk mencegah kemungkaran saja (<em>nahyu ’anil munkar</em>), namun juga untuk melenyapkan kemungkaran (<em>izâlat al-munkar</em>). Mencegah kemungkaran bisa dilakukan dengan cara melakukan <em>muhâsabah</em> (koreksi) terhadap para penguasa dan pelaku kemaksiatan atau dengan cara memisahkan diri dari penguasa kufur atau pelaku maksiat. Adapun menghilangkan kemungkaran (<em>izâlat al-munkar</em>) harus dilakukan dengan cara menegakkan kekuasaan Islam dan menerapkan syariah Islam untuk mengatur seluruh interaksi yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sebab, pangkal dari kemungkaran adalah tegaknya kekuasaan dan hukum kufur di tengah-tengah masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Atas dasar itu, melenyapkan kemungkaran harus dilakukan dengan cara mengganti kekuasaan dan hukum-hukum kufur dengan kekuasaan dan hukum Islam (syariah Islam). Dari sinilah dapat dipahami bahwa, dakwah menegakkan syariah Islam melalui pendirian kekuasaan Islam (Khilafah Islamiyah) harus dijadikan sebagai <em>qâdhiyyah mashîiriyyah</em> (persoalan utama) bagi kaum Muslim. Alasannya, dakwah seperti inilah yang akan mampu melenyapkan seluruh kemungkaran. Adapun seruan-seruan lain, semacam seruan untuk membatasi aktivitas dakwah pada perbaikan individu saja, <em>concern</em> pada aktivitas sosial, dan lain sebagainya, justru akan memalingkan umat dari tujuan utama dakwah, yakni menegakkan syariah Islam melalui pendirian kembali Khilafah Islamiyah. Dakwah yang mampu mengantarkan umat Islam pada tujuan ini hanyalah dakwah yang bersifat <em>siyâsiyah</em> (dakwah politik), bukan dakwah yang lain. Tentu, gerakan Islam yang mampu menjalankan aktivitas <em>dakwah siyâsah</em> hanyalah gerakan yang berkecimpung dalam amal <em>siyâsi</em> (aktivitas politik); bukan kelompok atau partai yang hanya berkecimpung dalam aktivitas ruhiah, sosial, taklim dan <em>irsyâd wal bayân</em> saja. <em>Wallâhu a’lam bi ash-shawâb</em> <strong>[]</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/cara-merespon-kemungkaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Adakah Ayat-ayat Pluralisme?</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/adakah-ayat-ayat-pluralisme/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/adakah-ayat-ayat-pluralisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Afkar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18536</guid>
		<description><![CDATA[Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Pluralisme sering dibedakan menjadi dua, pluralisme agama dan pluralisme dalam konteks kemasyarakatan (sosiologis). 
Dalam Wikipedia, The Free Encyclopedia (1 Februari 2008) pada entri Religious Pluralism dituliskan: Pluralisme agama secara mudah adalah istilah bagi hubungan-hubungan damai antara beragam agama atau pluralisme agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><span style="Verdana;" lang="FR">Pluralisme didefinisikan sebagai paham yang mengakui adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Pluralisme sering dibedakan menjadi dua, pluralisme agama dan pluralisme dalam konteks kemasyarakatan (sosiologis). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Dalam <em>Wikipedia, The Free Encyclopedia</em> (1 Februari 2008) pada entri <em>Religious Pluralism</em> dituliskan: <em>Pluralisme agama secara mudah adalah istilah bagi hubungan-hubungan damai antara beragam agama atau pluralisme agama menggambarkan pandangan bahwa agama seseorang bukanlah satu-satunya dan secara eksklusif menjadi sumber kebenaran, dan karenanya pluralisme agama meyakini bahwa kebenaran itu tersebar di agama-agama yang lain.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Kemunculan ide pluralisme, terutama pluralisme agama, didasarkan pada sebuah keinginan untuk melenyapkan <em>truth claim</em> (klaim kebenaran) yang dianggap sebagai pemicu munculnya konflik yang akan hilang jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling benar (lenyapnya <em>truth claim</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR"><br />
<strong>Pandangan Islam </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Secara normatif, pluralisme agama bertentangan secara total dengan akidah Islam. Sebab, pluralisme agama menyatakan bahwa semua agama adalah benar. Sebaliknya, dalam pandangan Islam agama satu-satunya yang benar hanyalah Islam. Al-Quran juga menegaskan bahwa agama yang diridhai di sisi Allah SWT hanyalah Islam:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;" lang="FR">Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam</span></em><span style="Verdana;" lang="FR"> (QS Ali Imran [3]:19).<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;" lang="FR">Siapa saja mencari agama selain Islam maka sekali-kali tidaklah akan diterima dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang merugi</span></em><span style="Verdana;" lang="FR"> (QS Ali Imran [3]: 85).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Pada tempat yang lain, Allah SWT menolak klaim kebenaran semua agama selain Islam, baik Yahudi dan Nasrani, Zoroaster dan lain sebagainya. Al-Quran telah menyatakan masalah ini dengan sangat jelas (Lihat: QS al-Baqarah [2]:165; at-Taubah [9]: 30, 31; al-Maidah [5]: 72).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR"><br />
<strong>Koreksi atas Argumentasi Kaum Pluralis</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Para pengusung gagasan pluralisme berusaha dengan keras mencari pembenaran dalam teks-teks agama agar paham ini (pluralisme) bisa diterima oleh kaum Muslim. </span><span style="Verdana;">Alasan-alasan yang sering mereka ketengahkan untuk membenarkan ide pluralisme tersebut di antaranya sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">a. QS al-Hujurat ayat 13.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Allah SWT berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa di sisi Allah </span></em><span style="Verdana;">(QS al-Hujurat [49]:13).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Pada dasarnya, ayat ini sama sekali tidak berhubungan dengan ide pluralisme agama yang diajarkan kaum pluralis. Ayat ini hanya menjelaskan keberagaman (pluralitas) suku dan bangsa dan bukan pembenaran terhadap semua agama (pluralisme). </span><span style="Verdana;">Ada</span><span style="Verdana;"> baiknya kita menyimak kembali penjelasan para mufassir yang memiliki kredibilitas ilmu dan ketakwaan dalam masalah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dalam kitab <em>Shafwât</em> <em>at-Tafâsir</em>, Ali ash-Shabuni menyatakan, “Pada dasarnya, umat manusia diciptakan Allah SWT dengan asal-usul yang sama, yakni keturunan Nabi Adam as. Tendensinya, agar manusia tidak membangga-banggakan nenek moyang mereka. Kemudian Allah SWT menjadikan mereka bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, agar mereka saling mengenal dan bersatu, bukan untuk bermusuhan dan berselisih.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Syaikh Zadah berkata, “Hikmah dijadikannya kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar satu dengan yang lain mengetahui nasabnya. Dengan begitu, mereka tidak menasabkan pada yang lain….Namun, dengan semua itu tidak ada yang lebih agung dan mulia, kecuali karena keimanan dan ketakwaannya.’”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">b. Islam tidak memaksa manusia untuk masuk Islam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ayat lain yang sering digunakan dalil untuk membenarkan ide pluralisme adalah ayat berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, siapa saja yang mengingkari thâghût dan mengimani Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang amat kuat dan tidak akan putus </span></em><span style="Verdana;">(QS al-Baqarah [2]: 256).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ayat ini sering dieksploitasi untuk membenarkan ide pluralisme. Mereka menyatakan, Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk ke dalam Islam, bahkan mereka dibiarkan tetap dalam agama mereka. Ini menunjukkan bahwa Islam mengakui kebenaran agama selain Islam (pluralisme), tidak hanya sekadar mengakui pluralitas (keragaman) agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Sesungguhnya ayat ini tidak bisa digunakan sebagai dalil untuk membenarkan ide pluralisme. Ayat ini hanya berbicara dalam konteks “tidak ada pemaksaan bagi penganut agama lain untuk masuk Islam”. Sebab, telah tampak kebenaran Islam melalui <em>hujjah</em> dan dalil yang nyata. Bahkan ayat ini telah menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa kebenaran itu ada di dalam agama Islam, sedangkan agama yang lain jelas-jelas batil. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya menyatakan, “Sesungguhnya seorang Muslim tidak boleh memaksa orang kafir untuk masuk Islam. Sebab, kebenaran Islam telah terbukti berdasarkan <em>hujjah</em> yang terang dan gamblang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Islam tidak mengakui sama sekali <em>truth claim</em> agama mereka. Bahkan kaum Muslim diperintahkan untuk mengajak orang-orang kafir masuk ke dalam agama Islam dengan <em>hujjah</em> dan hikmah (Lihat: QS al-Hajj [22]: 67).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">c. QS al-Maidah ayat 69 dan al-Baqarah ayat 62.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Allah SWT berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Sesungguhnya orang-orang Mukmin, Yahudi, Nasrani dan Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar mengimani Allah, Hari Akhir dan beramal salih, maka tidak perlu ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati </span></em><span style="Verdana;">(QS al-Maidah [5]: 69).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Sesungguhnya orang-orang Mukmin, Yahudi, Shabiin dan Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar mengimani Allah, Hari Akhir dan beramal salih, maka mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka </span></em><span style="Verdana;">(QS al-Baqarah [2]: 62).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Kaum pluralis menyatakan, dua ayat ini dengan sangat jelas menyatakan bahwa Islam mengakui kebenaran agama-agama selain Islam, bahkan mereka juga memiliki peluang yang sama untuk masuk ke dalam surga-Nya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Sesungguhnya kedua ayat ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penganut agama lain yang ada pada saat ini. Sebab, topik yang diperbincangkan ayat tersebut adalah umat-umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad saw. diutus. Ayat-ayat ini menjelaskan kepada kita, bahwa umat-umat terdahulu—baik Yahudi, Nasrani, Shabiin—yang taat pada ajaran agama dan Rasul-Nya akan mendapatkan pahala di sisi Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dua ayat di atas tidak menunjukkan pengertian bahwa pemeluk agama lain yang ada pada saat ini juga memiliki kesempatan yang sama untuk masuk ke dalam surga-Nya, seperti halnya pemeluk agama Islam. Sebab, nash-nash al-Quran dan as-Sunnah dengan jelas menyatakan, bahwa setelah pengutusan Muhammad saw. seluruh manusia diperintahkan untuk meninggalkan agama mereka. Bahkan Islam telah menjelaskan kesesatan dan kekafiran semua agama yang ada pada saat ini; baik agama Yahudi, Nasrani maupun agama kaum musyrik (Budha, Hindu, Konghucu, dan lain-lain).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ada</span><span style="Verdana;"> baiknya kita menyimak penuturan ahli tafsir berikut ini. Menurut as-Sudi, ayat ini (QS al-Baqarah [2]: 62) turun berkenaan dengan para sahabat (para pendeta) Salman al-Farisi tatkala ia menceritakan kepada Nabi saw kebaikan-kebaikan mereka. Tatkala Salman selesai memuji para sahabatnya itu, Nabi saw. bersabda, “Salman, mereka termasuk ke dalam penduduk neraka.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Selanjutnya Allah SWT menurunkan ayat ini. Lalu hal ini menjadi keimanan orang-orang Yahudi; yaitu, siapa saja yang berpegang teguh terhadap Taurat serta perilaku Musa as. hingga datangnya Isa as (maka ia selamat). Ketika Isa as. telah diangkat menjadi nabi, maka siapa saja yang tetap berpegang teguh pada Taurat dan mengambil perilaku Musa as., namun tidak memeluk agama Isa as., dan tidak mau mengikuti Isa as., maka ia akan binasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Demikian pula orang Nasrani. Siapa saja yang berpegang teguh pada Injil dan syariat Isa as. hingga datangnya Muhammad saw., maka ia adalah orang Mukmin yang amal perbuatannya diterima oleh Allah SWT. Namun, setelah Muhammad saw. datang, siapa saja yang tidak mengikuti Nabi Muhammad saw. dan tetap beribadah seperti perilaku Isa as. dan Injil maka ia akan mengalami kebinasaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Setelah ayat ini diturunkan, selanjutnya Allah SWT menurunkan </span><span style="Verdana;">surat</span><span style="Verdana;"> (yang artinya): <em>Siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima dan da di akhirat termasuk orang-orang yang merugi</em> (QS Ali Imran [3]: 85).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Ibnu Abbas menyatakan, “Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satu pun jalan (agama, kepercayaan, dll) ataupun perbuatan yang diterima di sisi Allah, kecuali jika jalan dan perbuatan itu berjalan sesuai dengan syariah Muhammad saw. Adapun, umat terdahulu sebelum Nabi Muhammad diutus, selama mereka mengikuti ajaran nabi-nabi pada zamannya dengan konsisten, mereka mendapatkan petunjuk dan memperoleh jalan keselamatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Selain itu, Rasulullah saw. bersabda, “<em>Demi Zat Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari manusia yang mendengar aku—Yahudi ataupun Nasrani—kemudian mati, sedangkan ia tidak mengimani apa saja yang diturunkan kepadaku, kecuali ia menjadi penghuni neraka.”</em> (HR Muslim dan Ahmad).<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">d. Ayat tentang kalimatun sawâ’.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Para</span><span style="Verdana;"> pengusung ide pluralisme juga menggunakan ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang <em>kalimatun sawâ’</em>. Allah SWT berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Katakanlah, “Hai Ahlul Kitab, marilah kita berpegang pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan di antara kami dan kalian, yakni bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan apa pun; tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” </span></em><span style="Verdana;">(QS Ali Imran [3]: 64).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Para</span><span style="Verdana;"> pengusung gagasan pluralisme mengatakan bahwa agama Yahudi, Kristen dan Islam merupakan agama langit yang memiliki prinsip-prinsip ketuhanan dan berasal dari Tuhan yang sama. Lebih jauh mereka juga menyatakan bahwa umat Islam, Yahudi dan Kristen berasal dari keturunan Ibrahim as. Ketiga pemeluk agama besar itu memiliki akar kesejarahan dan nasab yang sama. Semua menyembah Allah dan sama-sama berpegang pada <em>kalimat[un] sawâ’</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Menurut Ibnu Katsir, kata <em>kalimat[un]</em> dalam surah ini dipakai untuk menyatakan kalimat sempurna yang dapat dipahami maknanya. Kalimat sempurna itu adalah <em>sawâ baynanâ wa baynakum</em> (<em>yang sama, yang tidak ada perbedaan antara kami dengan kalian</em>). Frasa ini merupakan sifat yang menjelaskan kata <em>kalimat[un]</em> yang memiliki makna dan pengertian tertentu. Adapun makna hakiki yang dituju oleh frasa <em>kalimat[un] sawâ’</em> <em>baynanâ wa baynakum</em> adalah kalimat tauhid, yaitu <em>“an lâ na’budu illâ Allâh</em> (hendaknya kita tidak menyembah selain Allah). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Inilah makna sesungguhnya dari <em>kalimat[un] sawâ’</em>, yaitu kalimat Tauhid yang menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allah SWT; bukan patung, rahib, api dan sebagainya. Kalimat tauhid adalah kalimat yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh Rasul yang diutus oleh Allah SWT, termasuk Musa as. dan Isa as. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Jelas, surah Ali Imran ayat 64 ini sama sekali tidak menyerukan kesatuan agama, atau pembenaran Islam atas <em>truth claim</em> agama-agama selain Islam. Sebaliknya, ayat tersebut justru berisikan ajakan kepada Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani)—yang telah menyimpang jauh dari konsepsi tauhid—untuk kembali mentauhidkan Allah SWT, sebagaimana yang telah diajarkan pertama kali oleh Musa as. dan Isa as. <em>Wallâhu a’lam bis-shawâb. </em>[Syamsuddin Ramadhan-Lajnah Tsaqafiyah HTI].<strong></strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/adakah-ayat-ayat-pluralisme/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mencegah Remaja Pacaran</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/mencegah-remaja-pacaran/</link>
		<comments>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/mencegah-remaja-pacaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 09:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>solihan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Nisa']]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=18537</guid>
		<description><![CDATA[Ada Apa dengan Cinta?
Cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang bersifat naluriah pada manusia. Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada wanita, anak-anak harta yang melimpah dari jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="150%;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--><strong><span style="Verdana;">Ada</span></strong><strong><span style="Verdana;"> Apa dengan Cinta?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Cinta kepada lawan jenis merupakan hal yang bersifat naluriah pada manusia. Allah SWT menyatakan dalam firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada wanita, anak-anak harta yang melimpah dari jenis emas dan perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah sebaik-baiknya tempat kembali </span></em><span style="Verdana;">(QS Ali Imran [3]: 14).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Allah SWT menjelaskan tentang maksud dari penciptaan naluri ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;" lang="FR">Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu diri serta menciptakan darinya istri-istri dan memperkembangbiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak </span></em><span style="Verdana;" lang="FR">(QS an-Nisa’ [4]: 1). <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;" lang="FR">Makna yang serupa juga kita temui di dalam QS al-A’raf: 189, an-Nahl: 72, ar-Rum: 21, dll. Ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan adalah dalam rangka melanjutkan keturunan. Karena itu, ungkapan cinta dengan segala ekspresinya tentu hanya dibolehkan di dalam sebuah ikatan perkawinan yang sah. Di luar itu tidak diperkenankan laki-laki dan perempuan yang bukan <em>mahram</em> untuk saling berhubungan dalam masalah pribadi hingga menjurus pada kedekatan fisik. </span><span style="Verdana;">Rasulullah saw. bersabda: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="embed;" dir="rtl"><span style="150%;" lang="AR-SA">لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ</span><span style="150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="150%;" lang="AR-SA">بِاِمْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Hendaknya seorang pria tidak berduaan dengan seorang wanita, kecuali bersamanya seorang mahram </span></em><span style="Verdana;">(HR Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Selain itu, rasa cinta kepada lawan jenis merupakan salah satu dari penampakan naluri mempertahankan keturunan, di samping penampakan lainnya seperti rasa sayang terhadap anak, orangtua dan saudara.<em> </em>Naluri akan muncul jika ada rangsangan dari luar. Apabila telah muncul dan tidak terpenuhi, tidak sampai berakibat pada kematian. Bahkan kemunculan naluri ini bisa dihindari dengan cara menghindari hal-hal yang dapat merangsangnya, baik dalam bentuk sesuatu yang bersifat mesum atau hayalan-hayalan mesum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Naluri ini pun bisa dialihkan pada kegiatan yang menuntut konsentrasi dan olahraga atau dialihkan pada penyaluran naluri lainnya, seperti naluri beragama. Rasulullah saw. bersabda, “<em>Wahai para pemuda, siapa saja di antara kalian yang mampu untuk menikah, menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan mata dan menjaga kehormatan. Siapa saja yang belum mampu, hendaklah dia berpuasa, sebab puasa dapat menjadi perisai baginya</em> (HR al-Bukhari dan Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Satu-satunya penyaluran yang dibolehkan adalah melalui jalan pernikahan yang sah, sebab dengan menikah berarti seseorang telah dapat menyalurkan naluri jenisnya dengan cara yang halal dan terselamatkan dalam separuh agamanya. Rasulullah saw. bersabda, “<em>Siapa saja yang telah diberi Allah rezeki berupa istri yang salihah, ia sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya. Karena itu, hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang lainnya</em>.” (HR ath-Tabrani dan al-Hakim). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;"><br />
<strong>Mengendalikan Naluri Seksual </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Di tengah arus kehidupan yang makin liberal, tidak bisa dihindari adanya rangsangan terhadap naluri seksual yang sedemikian subur. Tayangan mesum kita jumpai dimana-mana. VCD/DVD porno laris manis terjual di jalanan, mal dan tempat-tempat umum lainnya. Banyak perempuan biasa berpakaian seronok mengumbar aurat di depan umum, dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Saat ini, para pemuda harus menghadapi kenyataan bahwa energi yang semestinya mereka fokuskan untuk berkarya dan berprestasi terpaksa harus teralihkan untuk menahan gejolak syahwat yang berpeluang muncul setiap saat. Kecanggihan teknologi memberi fasilitas untuk berkomunikasi dengan siapapun, termasuk dalam mengungkapkan rasa dan gejolak ini kepada lawan jenisnya. Tak jarang komunikasi lewat HP atau dunia maya berlanjut pula pada pertemuan hingga mengarah pada kedekatan fisik dan penyaluran kebutuhan seksual. Inilah yang sering diartikan oleh sebagian masyarakat dengan istilah “pacaran”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Dapat dimaklumi jika tantangan yang dihadapi para Ibu dalam mendidik anak saat ini sangatlah berat. Seorang Ibu dituntut untuk dapat memahami karakteristik dari setiap naluri, termasuk naluri seksual, berikut tahapan kemunculannya pada diri anak dan cara pengendaliannya menurut Islam. Seorang Ibu juga harus dapat mengikuti perkembangan zaman dan teknologi agar dapat mengontrol lingkup pergaulan anak hingga dapat mendeteksi seawal mungkin jika sang anak mulai berkomunikasi dengan lawan jenisnya, semisal melalui <em>handphone</em> atau <em>facebook</em>. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Hal terpenting adalah penanaman nilai-nilai agama yang kuat dalam keluarga serta komunikasi yang lancar antara anak dan orangtua hingga tak ada masalah anak yang tidak diketahui oleh ibunya. Anak juga harus dapat merasakan kenyamanan dan kepuasan manakala “curhat” kepada ibunya, tidak malu ataupun takut saat mengungkapkan setiap gejolak perasaan yang dialaminya terhadap lawan jenis. Sang anak percaya bahwa ibunya mampu menjawab segala kegalauan dan memberinya solusi yang bijak dan sesuai dengan tuntunan Islam. Inilah yang menumbuhkan kepribadian Islam anak; perkembangan naluri-nalurinya senantiasa sejalan dengan perkembangan pemikirannya. Ibulah yang paling memegang peranan dalam hal ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Berikut langkah dan tips yang bisa dilakukan ibu dalam mengawal perkembangan naluri seksual anak, terutama agar anak bisa dicegah dari upaya berpacaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Pertama</span></em><span style="Verdana;">: Perkuat akidah anak dengan mengajak berpikir tentang kehidupan, tujuan Allah SWT menciptakan manusia, informasi tentang karakteristik manusia, cara pemenuhan potensi hidup manusia menurut Islam serta akibat pemenuhan yang tidak sesuai dengan aturan Allah SWT; batasan pergaulan di dalam Islam seperti keharusan untuk menundukkan pandangan, menjaga aurat, tidak ber-<em>khalwat</em>, dll. Hal ini dilakukan dalam rangka membentuk standarisasi Islam dan membina pemikiran anak dalam menyikapi kemunculan naluri seksual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Kedua</span></em><span style="Verdana;">: Buatlah suasana rumah dalam nuansa ibadah yang kuat dan saling beramar makruf nahi mungkar antaranggota keluarga. Biasakan melakukan qiyamul lail, tadarus al-Quran dan shaum sunnah bersama guna memperkuat hubungan dengan Allah SWT hingga muncul pengawasan diri yang selalu melekat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Ketiga</span></em><span style="Verdana;">: Ajaklah anak berpikir tentang masa depan dan cita-citanya; juga membuat langkah serta target-target untuk mencapai cita-cita tersebut. Cara ini dimaksudkan agar anak mampu mendeteksi hal-hal yang dapat mendukung atau bahkan menghambat cita-citanya, termasuk dapat memposisikan kemunculan naluri seksual berkaitan dengan cita-citanya ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Ketiga</span></em><span style="Verdana;">: Libatkan anak dalam aktivitas diskusi yang mengasah kemampuan berpikirnya, merangsang kepekaannya terhadap lingkungan dan belajar memecahkan persoalan masyarakat menurut Islam, khususnya yang dihadapi oleh remaja. Latihan ini akan membantu mereka saat mereka sendiri menghadapi masalah yang sama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Keempat</span></em><span style="Verdana;">: Tumbuhkan jiwa kepemimpinan-nya dengan aktif berorganisasi; beri motivasi untuk selalu berprestasi, berkarya dan maju. Juga dapat dilakukan dengan memberi contoh apa yang dihasilkan oleh para sahabat Rasul, ulama dan ilmuwan Muslim dalam usia muda. Harapannya, anak akan memiliki figur yang selalu menjadi panutannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Kelima</span></em><span style="Verdana;">: Penuhi anak dengan kasih sayang dan perhatian dari orangtua dan saudara sebagai bentuk lain dari penyaluran naluri seksual sehingga dapat meminimalkan kemunculan naluri terhadap lawan jenis pada usia yang lebih cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><em><span style="Verdana;">Keenam</span></em><span style="Verdana;">: Biasakan untuk terus berkomuni-kasi dengan anak, tidak menganggap tabu untuk membahas seputar masalah naluri jenis ini. Bila perlu berilah contoh langsung bagaimana secara praktis pengalaman-pengalaman dalam mengendalikan naluri seksual dalam usia yang relevan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="150%;"><span style="Verdana;">Demikian hal yang bisa dilakukan ibu dalam menjalankan kewajibannya, membentuk kepribadian islami anak. Dengan itu, setiap perkembangan nalurinya (<em>nafsiyah</em>) akan selalu dapat dipecahkan sesuai dengan taraf pemikiran islamnya (<em>aqliyah</em>). Tentu saja tukar pengalaman akan sangat membantu kretivitas ibu untuk mencari cara yang tepat dengan menghadapi berbagai karakter anak. Semoga Allah SWT akan selalu memudahkan setiap usaha kita. Amin. <strong>[]</strong></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hizbut-tahrir.or.id/2010/02/09/mencegah-remaja-pacaran/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Dynamic Page Served (once) in 1.545 seconds -->
<!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2010-02-10 08:08:55 -->
