<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Pengertian Jihad Menurut Para Ulama</title>
	<atom:link href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/</link>
	<description>International Political Party</description>
	<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 10:22:13 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
		<item>
		<title>By: dhoni</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-67224</link>
		<dc:creator>dhoni</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 08:06:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-67224</guid>
		<description>alhamdulillah skrng aq lbh tau tentang jihad 
dan insya allah suatu hari nanti akan banyak
umat islam yang akan berjihad. allahu akbar</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alhamdulillah skrng aq lbh tau tentang jihad<br />
dan insya allah suatu hari nanti akan banyak<br />
umat islam yang akan berjihad. allahu akbar</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ozi</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-62098</link>
		<dc:creator>ozi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 03:03:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-62098</guid>
		<description>aku sangat menyukai ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku sangat menyukai ini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abdullah</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-22025</link>
		<dc:creator>Abdullah</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 14:42:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-22025</guid>
		<description>Assalamu'alaikum. Saya mau tanya hizbut tahrir di solo alamatnya di mana?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu&#8217;alaikum. Saya mau tanya hizbut tahrir di solo alamatnya di mana?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Mulyandi_Rasyidiq</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18566</link>
		<dc:creator>Mulyandi_Rasyidiq</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 07:35:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18566</guid>
		<description>Seluruh uraian di atas lebih menegaskan bahwa jihad adalah perintah agama. Siapa pun yang mengaku muslim tidak boleh sama sekali melecehkan perkara jihad. Jihadlah yang membawa risalah Islam di masa Rasul SAW tersebar hingga seluruh jazirah Arab hanya dalam tempo 10 tahun. Jihad pula yang mengantarkan umat Islam meraih kejayaannya selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Melalui jihad, tegaklah peradaban Islam nan agung, memberikan keamanan dan kesejahteraan bagi segenap manusia. Dan dari peradaban yang agung itu terpancar kemuliaan Islam, sekaligus tegak wibawa kaum muslimin.

Kini, ketika payung dunia Islam, khilafah Islamiyyah, telah runtuh. Jihad tidak lagi tegak. Dengan mudah musuh-musuh Islam melecehkan kaum muslimin, menindas, mencabik-cabik harkat dan martabatnya, mengusir bahkan membantainya. Palestina, Bosnia, Kosovo, Moro, bahkan Ambon adalah sederet bukti betapa lemahnya umat Islam untuk sekadar membela diri sekalipun. Bagaimana mungkin, di tengah situasi seperti ini, masih ada sebagian umat islam yang justru melecehkan ajaran Jihad?

Secara individual, jihad merupakan jalan untuk meraih syahadah. Di sisi Allah, setinggi-tinggi derajat kematian, adalah syahid di medan jihad. Rasulullah SAW. bersabda:

“Setinggi-tinggi derajat kematian adalah kematian para syuhada. Orang yang mati syahid akan diampuni semua dosanya, dijamin masuk sorga tanpa hisab, Di akhirat akan didampingi 70 bidadari, dan ia sendiri mampu memberi syafaat kepada seluruh keluarganya.” (Al-Hadits).

Melihat ini, semestinya tak ada seorang muslim pun yang tidak ingin mati syahid. Hanya mereka yang hatinya telah tertambat pada gemerlapnya dunia dan mengabaikan pahala akhirat, merekalah yang membenci jihad.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Seluruh uraian di atas lebih menegaskan bahwa jihad adalah perintah agama. Siapa pun yang mengaku muslim tidak boleh sama sekali melecehkan perkara jihad. Jihadlah yang membawa risalah Islam di masa Rasul SAW tersebar hingga seluruh jazirah Arab hanya dalam tempo 10 tahun. Jihad pula yang mengantarkan umat Islam meraih kejayaannya selama lebih dari 1000 tahun lamanya. Melalui jihad, tegaklah peradaban Islam nan agung, memberikan keamanan dan kesejahteraan bagi segenap manusia. Dan dari peradaban yang agung itu terpancar kemuliaan Islam, sekaligus tegak wibawa kaum muslimin.</p>
<p>Kini, ketika payung dunia Islam, khilafah Islamiyyah, telah runtuh. Jihad tidak lagi tegak. Dengan mudah musuh-musuh Islam melecehkan kaum muslimin, menindas, mencabik-cabik harkat dan martabatnya, mengusir bahkan membantainya. Palestina, Bosnia, Kosovo, Moro, bahkan Ambon adalah sederet bukti betapa lemahnya umat Islam untuk sekadar membela diri sekalipun. Bagaimana mungkin, di tengah situasi seperti ini, masih ada sebagian umat islam yang justru melecehkan ajaran Jihad?</p>
<p>Secara individual, jihad merupakan jalan untuk meraih syahadah. Di sisi Allah, setinggi-tinggi derajat kematian, adalah syahid di medan jihad. Rasulullah SAW. bersabda:</p>
<p>“Setinggi-tinggi derajat kematian adalah kematian para syuhada. Orang yang mati syahid akan diampuni semua dosanya, dijamin masuk sorga tanpa hisab, Di akhirat akan didampingi 70 bidadari, dan ia sendiri mampu memberi syafaat kepada seluruh keluarganya.” (Al-Hadits).</p>
<p>Melihat ini, semestinya tak ada seorang muslim pun yang tidak ingin mati syahid. Hanya mereka yang hatinya telah tertambat pada gemerlapnya dunia dan mengabaikan pahala akhirat, merekalah yang membenci jihad.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: AM</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18564</link>
		<dc:creator>AM</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 07:15:31 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18564</guid>
		<description>dari Yahya Ibnu al ‘Ala’ berkata,
“Kami mendapatkan kabar dari Laith dari ‘Ata’, dari Abu Rabah, dari Jabir mengatakan bahwa, “Sekembalinya Nabi saw dari perang, Beliau mengatakan kepada kami, “Telah datang kepadamu berita yang baik, kamu datang dari jihad yang rendah kepada jihad yang lebih besar yaitu seorang hamba Allah yang berjuang melawan hawa nafsunya.”

Hadits ini tidak bisa digunakan untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini, “mata rantai dari periwayatannya adalah lemah (dha’if).” As-Suyuti juga berpendapat bahwa aspek hukumnya lemah, hal ini beliau utarakan dalam bukunya, Jami’ As-Shaghir.

Kedua:

Hadits ini secara tegas dan jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:

“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’,4: 95-96).

Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.
Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.

Ketiga :

Hadits ini (hadits tentang jihad melawan hawa nafsu) bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir yang disampaikan oleh Nabi saw., yang menjelaskan tentang keutamaan jihad. Kami akan menyebutkan beberapa diantaranya.

“Waktu pagi atau sore yang digunakan di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Bukhari dan Muslim)

“Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’)
Dan seterusnya...

Bantahan Atas Jihad Melawan Hawa Nafsu
Oleh: Abu Khubaib &#38; Abu Zubair

Wallohu alam bishowab</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>dari Yahya Ibnu al ‘Ala’ berkata,<br />
“Kami mendapatkan kabar dari Laith dari ‘Ata’, dari Abu Rabah, dari Jabir mengatakan bahwa, “Sekembalinya Nabi saw dari perang, Beliau mengatakan kepada kami, “Telah datang kepadamu berita yang baik, kamu datang dari jihad yang rendah kepada jihad yang lebih besar yaitu seorang hamba Allah yang berjuang melawan hawa nafsunya.”</p>
<p>Hadits ini tidak bisa digunakan untuk sebuah hujjah, karena al-Baihaqi berkata berkaitan dengan ini, “mata rantai dari periwayatannya adalah lemah (dha’if).” As-Suyuti juga berpendapat bahwa aspek hukumnya lemah, hal ini beliau utarakan dalam bukunya, Jami’ As-Shaghir.</p>
<p>Kedua:</p>
<p>Hadits ini secara tegas dan jelas bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Allah Yang Maha Kuasa berfirman:</p>
<p>“Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai &#8216;uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisaa’,4: 95-96).</p>
<p>Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.<br />
Selanjutnya, siapapun yang mengikuti Yahya Ibn al-‘Ala’, sebagai seorang perowi hadits maka akan menemukan dalam biografinya sesuatu yang akan menyebabkannya meninggalkan hadits tersebut.. Ibnu Hajar al-Asqalani berkata (berpendapat) tentangnya dalam At-Taqrib, “Dia tertuduh sebagai pemalsu hadits”. Adz-Dzahabi berkata dalam Al-Mizan, “ Abu Hatim berkata bahwa dia bukanlah seorang perowi yang kuat, Ibnu Mu’in menggolongkannya sebagai perawi yang lemah. Ad-Daruqutni berkata bahwa dia telah dihapuskan (dalam daftar perawi) dan Ahmad bin Hanbal berkata “ Dia adalah seorang pembohong dan pemalsu hadits”.</p>
<p>Ketiga :</p>
<p>Hadits ini (hadits tentang jihad melawan hawa nafsu) bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir yang disampaikan oleh Nabi saw., yang menjelaskan tentang keutamaan jihad. Kami akan menyebutkan beberapa diantaranya.</p>
<p>“Waktu pagi atau sore yang digunakan di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Bukhari dan Muslim)</p>
<p>“Berdiri satu jam dalam perang di jalan Allah lebih baik daripada berdiri dalam shalat selama 60 tahun.” (shahih al-Jami’)<br />
Dan seterusnya&#8230;</p>
<p>Bantahan Atas Jihad Melawan Hawa Nafsu<br />
Oleh: Abu Khubaib &amp; Abu Zubair</p>
<p>Wallohu alam bishowab</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: uga Al Banda</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18504</link>
		<dc:creator>uga Al Banda</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 11:58:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18504</guid>
		<description>" Barangsiapa bersusah susah di jalan Kami, kami tunjukkan jalan2 Kami".</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>&#8221; Barangsiapa bersusah susah di jalan Kami, kami tunjukkan jalan2 Kami&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: RAJA PROPOLIS</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18443</link>
		<dc:creator>RAJA PROPOLIS</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 22:38:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18443</guid>
		<description>Yang mencoba mereduksi makna jihad selain berperang di jalan Alloh adalah orang2 yang takut mati syahid. pada hal mati syahid harus menjadi impian setiap muslim. Selamat bagi yang mereduksi makna jihad karena Bush laknatullah 'alaih bangga kepada anda. Tetapi Alloh dan RasulNYA serta para Mujahidin kecewa kepada anda.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yang mencoba mereduksi makna jihad selain berperang di jalan Alloh adalah orang2 yang takut mati syahid. pada hal mati syahid harus menjadi impian setiap muslim. Selamat bagi yang mereduksi makna jihad karena Bush laknatullah &#8216;alaih bangga kepada anda. Tetapi Alloh dan RasulNYA serta para Mujahidin kecewa kepada anda.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pengertian Jihad Menurut Para Ulama &#171; Tiada Kemuliaan Tanpa Islam, Tiada Islam Tanpa Syari&#8217;ah, Tiada Syari&#8217;ah Tanpa Daulah Khilafah</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18400</link>
		<dc:creator>Pengertian Jihad Menurut Para Ulama &#171; Tiada Kemuliaan Tanpa Islam, Tiada Islam Tanpa Syari&#8217;ah, Tiada Syari&#8217;ah Tanpa Daulah Khilafah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 08:57:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18400</guid>
		<description>[...] Menurut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Badaa’i’ as-Shanaa’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain.[1] [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Menurut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Badaa’i’ as-Shanaa’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain.[1] [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pengertian jihad menurut para ulama &#171; iyah2008: Siti Mardiyah</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18394</link>
		<dc:creator>pengertian jihad menurut para ulama &#171; iyah2008: Siti Mardiyah</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Nov 2008 06:34:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18394</guid>
		<description>[...] Menurut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Badaa’i’ as-Shanaa’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain.[1] [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Menurut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Badaa’i’ as-Shanaa’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain.[1] [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Pengertian Jihad Menurut Para Ulama &#171; Khabarislam</title>
		<link>http://hizbut-tahrir.or.id/2008/11/15/pengertian-jihad-menurut-para-ulama/#comment-18366</link>
		<dc:creator>Pengertian Jihad Menurut Para Ulama &#171; Khabarislam</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 19:02:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hizbut-tahrir.or.id/?p=5362#comment-18366</guid>
		<description>[...] Menurut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Badaa’i’ as-Shanaa’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain.[1] [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Menurut mazhab Hanafi, sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Badaa’i’ as-Shanaa’i’, “Secara literal, jihad adalah ungkapan tentang pengerahan seluruh kemampuan… sedangkan menurut pengertian syariat, jihad bermakna pengerahan seluruh kemampuan dan tenaga dalam berperang di jalan Allah, baik dengan jiwa, harta, lisan ataupun yang lain.[1] [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

